Tampilkan postingan dengan label Cerita anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita anak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 November 2018

Ambi, Ayo Makan!

“Ayo kita berlomba mencari rumput segar!” seru Ambi kepada teman-temannya.
Ambi adalah seekor kambing etawa betina yang sangat lincah. Dia tinggal di sebuah ladang peternakan yang luas. Dia selalu bersemangat untuk mencari rumput segar di peternakan itu setiap pagi. Dia selalu berlari kesana-kemari. Dia makan rumput dengan sangat lahap. Dia ingin memberikan susu yang banyak kepada Pak Tani yang baik hati.
“Tuh disana!” Ambi menemukan  semak rumput segar. Teman-temannya pun mengikutinya.
“Nyam..nyam..nyam! Wah sedap sekalli rumput ini!” kata Ambi.
“Hei, lihat disana ada rumput lagi!” Dia berlari menuju kumpulan rumput yang lain, sementara teman-temannya masih asyik dan santai melahap rumput yang pertama ditemukan.
“Aku mau yang itu!” Dia pun berlari menuju rumput itu. “Nyam..nyam..” dia makan dengan cepat sambil melihat ke sekeliling. “Itu ada lagi! Sepertinya rumput itu lebih enak!” Dia pun berlari menuju rumput yang lain.
“Ah yang sebelah sana mungkin lebih enak!” dia berlari lagi menuju rumput yang dekat pohon mangga.
Tiba-tiba..”Aaaawww!!!” Ambi berteriak kesakitan. Rupanya dia menggigit sesuatu yang tajam di rumput. Dia menangis. Teman-temannya segera menghampiri. Ayah ibunya pun datang.
“Kamu kenapa, Ambi?” Tanya sang ayah.
“Huhuhuhu.. ada sesuatu yang tajam di mulutku,” jawab Ambi.
Lalu ibu Ambi memeriksa mulut anaknya itu.
“Oh, sepertinya itu duri. Ada duri menempel di gusi atas,” kata ibu.
“Sakit sekalli, bu!” Ambi mengerang.
“Sebaiknya kita minta tolong Pak Tani, yuk!” ajak sang ibu.
Priiiiiit! terdengar peluit Pak Tani memanggil para kambing.
Semua kambing beriringan menuju kandang.
Satu per satu kambing pun digiring Pak Tani masuk ke kandang-kandang mereka.
Satu kandang berisi tiga kambing.
Ambi tinggal bersama ayah ibunya dalam satu kandang.
Mereka siap diperah setelah makan.
Ambi tak tahan dengan duri yang menancap di gusinya itu.
Dia terus mengembik. “embeek… embeeeek… embeeek”
Ayah ibunya merasa kasihan kepadanya.
“Semoga Pak Tani segera menghampiri kita ya, Nak!” ibu kambing berharap dengan khawatir.
Sementara itu Ambi terus mengembik dan melompat-lompat di atas kandang. Dia berusaha memanggil Pak Tani.
Kemudian Pak Tani pun menghampiri kandang Ambi. Dia merasa heran dengan sikap Ambi yang terlalu lincah. Pak Tani menggiring Ambi dan ibunya ke kandang pemerahan susu. Ambi masih terus mengembik dan tak mau diam.
“Ada apa denganmu, Ambi? Apa kamu sakit?” Tanya Pak Tani sambil memeriksa tubuh Ambi.
“Embeeek.. embeeeek.. embeeeek..” Ambi terus mengembek sambil sesekali membuka mulutnya.
“Ada apa di mulutmu?” Pak Tani memeriksa mulut Ambi.
“Ooh, rupanya duri ini yang membuatmu  sangat kesakitan, ya” kata Pak Tani sambil mencabut duri kecil yang menancap di gusi bagian atas Ambi.
“Nah, sudah. Tenanglah. Durinya sudah kuambil. Sekarang kau tak akan kesakitan lagi.” Pak Tani mengelus-ngelus badan Ambi yang besar itu.
“Sekarang aku akan memerah susumu. Tenang ya, kambing yang baik!” kata Pak Tani kepada Ambi yang sudah terlihat lega.
“Terima kasih, Pak Tani.” Kata Ambi di dalam hati.
“Waaah banyak sekali susumu, Ambi! Kau pasti makan dengan lahap lagi ya. Hebat, Ambi! Terima kasih, yaa.” Pak Tani tersenyum bahagia kepada Ambi.
Setelah ibu Ambi selesai diperah, mereka digiring Pak Tani kembali ke kandangnya.
“Ayah, durinya sudah dicabut oleh Pak Tani” seru ibu Ambi dengan bahagia.
“Oh, syukurlah. Sekarang kau tidak kesakitan lagi, Ambi.” Kata sang ayah.
“Iya, ayah.. aku sekarang mau tidur dulu. Aku capek.” Kata Ambi.
Dia pun tertidur dengan cepat.
Sore hari, Pak Tani meniup peluit lagi. Tanda waktu makan telah tiba.
Semua kambing dilepaskan untuk mencari makan sendiri.
Tapi, Ambi terlihat tidak semangat.
“Ambi, ayo kita mencari rumput.” Ajak sang Ayah.
“Aku tidak mau ayah. Aku mau disini saja.” Ambi ingin diam di kandangnya.
“Kenapa?” Tanya sang ibu.
“Aku tidak mau makan, ibu.” Jawab Ambi.
“Baiklah, mungkin kamu masih capek ya. Kita bawakan saja rumputnya kesini, Bu” usul sang ayah.
Ayah dan ibu Ambi pun segera mencari rumput segar. Setelah mereka selesai makan, mereka membawakan beberapa rumput untuk dimakan Ambi di kandang.
“Ini, nak, makanlah. Rumputnya enak sekali.” Sang ibu menyodorkan rumput segar kepada Ambi.
“Tidak, bu, aku tidak mau. Aku tidak mau makan.” Ambi menolak dan menutup wajahnya dengan telinganya yang lebar.
“Kenapa, Ambi?” Tanya sang ayah.
“Aku capek, yah, ingin tidur saja” jawab Ambi.
“Baiklah.” Kata sang ayah.
Malam pun tiba. Lalu mereka bertiga tidur berdekatan.
Hujan turun dengan lebat. Udara jadi semakin dingin. Ayah ibu memeluk Ambi.”Semoga kamu selalu sehat, nak” bisik sang ibu.
Besoknya, sinar matahari pagi menembus lubang di kandang Ambi.
Ambi membuka matanya. Tapi badannya masih malas untuk bangun.
“Priiiiiit! Priiit!” bunyi peluit Pak Tani menggerakan para kambing etawa itu ke rerumputan. Semuanya bersemangat. Tapi tidak dengan Ambi. Dia tidak mau keluar dari kandang. Dia tidak mau mencari rumput segar.
“Ayo, Ambi kita cari rumput segar!” ajak ayah.
“Tidak mau, ayah. Aku tidak mau makan” jawab Ambi.
“Kemarin sore kamu tidak makan, masa sekarang tidak makan lagi.” Sang ibu merasa cemas.
“Tidak, bu. Biarkan aku di kandang saja”
Lalu, ayah ibunya pun keluar kandang dan makan rumput segar seperti biasa.
Mereka juga membawa pulang beberapa rumput untuk dimakan Ambi, tapi Ambi menolaknya lagi.
Pak Tani datang dan membawa Ambi dan ibunya untuk diperah.
Pak Tani heran saat memerah ambing Ambi beberapa kali tapi tidak ada susu yang keluar.
“Loh, ada apa denganmu, Ambi? Kemarin susumu sangat banyak. Tapi sekarang hampir tidak ada susu yang keluar.” Kata Pak Tani.
“Badanmu juga tampak lemas. Apa kamu sakit?” Pak Tani memeriksa badan dan mulut Ambi dengan teliti. Tak ada yang salah. Pak Tani merasa khawatir.
“Aku akan memanggil dokter untukmu nanti. Sekarang lebih baik kamu istirahat saja di kandang, ya” Pak Tani menuntun Ambi kembali ke kandangnya.
“Hah, dokter? Aku akan diperiksa dokter?” Ambi merasa takut. Dia mengingat terakhir kali dokter datang menyuntikkan  sesuatu ke badannya.
“Ibu, aku tak mau disuntik lagi. Aku tidak sakit kok, Bu” kata Ambi.
“Tapi kamu sejak kemarin tidak makan makanya hari ini susumu tidak keluar. Mungkin kamu memang sakit, Nak” kata sang ibu.
“Tidak, bu. Aku hanya takut makan. Aku takut ada duri lagi di rumput yang aku makan. Rasanya sakit sekali.” Ambi mengaku.
“Oh, jadi itu alasannya kamu malas makan?” kata sang ayah.
“Coba kita kembali ke tempat kamu memakan rumput berduri itu.” Ajak Ayah
“Disini, yah, aku makan rumput itu disini.” Ambi menunjukkan rerumputan yang ada di bawah pohon mangga. “Ini rumput yang biasa kita makan kan? Rumput ini tak berduri.”
Lalu mereka memeriksa rumput yang ada disitu.
“Naaah, ini dia tanaman yang mungkin termakan olehmu. “ seru Ayah.
“Ini putri malu, biasa tumbuh dekat rumput yang kita makan. Batangnya berduri." kata Ayah.

"Ooh..ini ya tanaman putri malu. Dia punya bunga yang cantik ya." sahut Ambi.
"Iya, daunnya yang kecil-kecil itu akan menutup jika disentuh atau ditiup. Daunnya jadi terlihat layu. Saat dia menutup, batang berdurinya akan mudah terlihat. Kenapa kamu sampai bisa tertusuk duri itu?  Selama ini tak ada yang pernah mengalaminya.” Kata Ayah.
“hemm.. mungkin karena aku makan terburu-buru dan selalu melihat sekeliling. Aku selalu tak sabar untuk mencoba semua rumput yang ada disini. Mataku kurang memperhatikan apa yang aku makan.” Ambi menyadari kesalahannya.
“Jadi, sekarang kamu mau makan?” Tanya ibu.
“Iya bu, aku mau makan lagi. Aku ingin memberi susu yang banyak kepada Pak Tani.” Seru Ambi bersemangat.
Dia lalu melahap rumput dengan lahap dan pelan.
Dia makan sambil menikmati harumnya rumput yang segar itu.
“Semoga besok susuku banyak.” Ambi berharap dengan bahagia. 

Sabtu, 29 September 2018

Muharram Pertamaku

"Ayo segera tidur ya, Fayad sayang!", kata ibu sambil mengusap kepalaku. "Besok kita harus bangun sebelum subuh biar tidak ketingalan pesawat", sambung ibu. "Baik, Bu.".

Akupun segera membaca do'a dan memejamkan mata. Aku tak sabar ingin segera sampai di Indonesia. Bibiku akan menikah, jadi kami akan pulang ke Indonesia selama 10 hari. 

Oh iya, kenalkan, Aku Fayad. Usiaku 6 tahun. Aku anak Indonesia yang tinggal di Jepang bersama Ibu dan ayahku.

Esok paginya, aku, ibu dan ayah sudah berada di bandara Kansai kota Osaka Jepang dan siap naik pesawat menuju Bandung, Indonesia.
Pesawat pun lepas landas. Aku senang sekali. 

Setelah terbang dengan pesawat selama 7 jam, kami sampai di bandara Husein Sastranegara Bandung.
"Kakeek!", aku berlari mendekati kakek yang datang menjemputku. "Alhamdulillah, cucu kakek sudah datang. waah kamu sudah besar yaa", kata Kakek. Lalu kami naik mobil Kakek menuju ke kampung halaman kami di kota Ciamis.

Sore hari, kami sudah sampai di rumah Kakek. Semua keluarga besarku sudah berkumpul di rumah Kakek. "Fayad, ayo cepat kesini! Gurame goreng nya sudah menunggu nih!" panggil Nenek. Aku pun segera meluncur ke meja makan untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan Nenek. "Lezatnya! Terima kasih, Nenek. Makanannya enak sekali", kataku.

Setelah mandi, aku bersiap ikut Kakek dan ayah ke masjid untuk sholat magrib. 
Di masjid, aku senang sekali karena ternyata banyak anak-anak yang juga datang ke masjid. Setelah sholat magrib, aku berkenalan dan ikut mengaji bersama mereka. Lalu sambung sholat isya berjamaah. 

Ketika mau pulang, aku heran karena anak-anak itu masih berkumpul bersama pak Ustadz. Lalu kuhampiri Adam, teman baruku. "Kalian sedang apa? Kok belum pulang?"
"Eh Fayad. Kami mau latihan dulu untuk lomba Muharam nanti", jawab Adam.
"Lomba Muharam? apa itu?"
"Dalam rangka memperingati tahun Baru Islam bulan Muharram ini, kami ikut lomba-lomba yang diadakan di kecamatan. Ada lomba adzan, lomba da'i cilik, lomba membaca Al Quran, menghafal Al Quran, lomba rebana, puisi, dan di malam tahun barunya ada pawai obor keliling desa. Kamu gak tahu ya?" Kata Adam.
"Nggak. Di Jepang aku belum pernah ikutan. Sepertinya seru, ya" Jawabku.
Tiba-tiba Kakek memanggilku. "Aku pulang dulu ya, Adam. Sampai ketemu besok."

Sesampainya di rumah, aku bertanya pada Kakek tentang perayaan bulan Muharram.
Kata Kakek, "Muharram adalah bulan pertama dari kalender Hijriyah atau penanggalan Islam. Muharram adalah bulan yang dimuliakan dan tidak boleh ada peperangan. Pada bulan ini, Rasulullah hijrah dari Mekkah ke Madinah. Bahkan Rasulullah SAW berpuasa pada tanggal 10 Muharram loh."

"Kenapa Rasul berpuasa?" tanyaku.

"Nah, pada zaman dahulu, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, Rasul melihat orang-orang Yahudi berpuasa. Beliau pun bertanya, "Hari apa ini? kenapa kalian berpuasa? Mereka menjawab, "Ini hari yang agung, hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir'aun. Maka Musa berpuasa sebagai tanda syukur, kami juga ikut berpuasa"
Lalu Rasulullah pun bersabda, "Kami orang Islam lebih berhak dan lebih utama untuk menghormati Nabi Musa daripada kalian" Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Daud." Sejak saat itu Rasulullah menghimbau umat Islam untuk berpuasa tidak hanya pada tanggal 10 Muharram tapi juga tanggal 9 Muharram, agar tidak sama dengan kaum Yahudi. Dan tahu gak, keutamaan puasa ini adalah bisa menghapus dosa kita setahun yang lalu loh" kata Kakek.

"Oh, begitu ya, Kek! Aku juga nanti mau ikut puasa aah." aku bersemangat.
"Oia, kata Adam, akan ada perayaan ya dengan lomba-lomba dan pawai. Apa lagi sih keistimewaan bulan Muharram ini?"

"Bagi kita umat Islam, sebaiknya kita lebih berbahagia saat menyambut tahun baru Islam di bulan Muharram. Kita harus banyak beribadah dan bersyukur dengan datangnya tahun baru. Selain itu, Muharram juga adalah bulan yang istimewa. Banyak peristiwa penting yang terjadi pada bulan Muharram, khususnya di tanggal 10, diantaranya adalah
Diciptakannya alam semesta oleh Allah SWT.
Diterimanya taubat Nabi Adam oleh Allah.
Berlabuhnya kapal Nabi Nuh setelah banjir besar.
Diselamatkannya Nabi Ibrahim dari api.
Keluarnya Nabi Yunus dari perut ikan paus setelah Allah mengampuninya." kata Kakek.

"Eh, lagi asyik bercerita yaa" tiba-tiba ibu muncul. "Besok lagi yaa sekarang waktunya Fayad tidur."
"Kek, aku tidur dulu,ya.. Besok aku mau ikut Adam melihat latihan lomba." kataku sambil pergi menuju kamar.

Besoknya aku ikut Adam pergi ke madrasah untuk latihan persiapan lomba. Rupanya disana sudah ada pamanku sedang membuat sesuatu. 
"Paman, sedang apa?" tanyaku kepada paman yang sedang memotong bambu.
"Eh ada Fayad. Paman sedang membuat obor untuk pawai 1 Muharram nanti malam. Kamu mau ikut?" kata paman.
"Wah asyik! mau dong!" sahutku senang.

Setelah sholat isya, aku dan teman-teman didampingi pak Ustadz dan para orang tua menyambut tahun baru Hijriyah dengan pawai obor keliling desa.
Seru sekali. Kami berjalan kaki dengan gembira, melantunkan kalimat takbir dan sholawat. Beberapa remaja masjid mengiringi dengan menabuh rebana.


Dua hari kemudian, lomba-lomba pun diadakan di aula kecamatan. Banyak sekali yang hadir. Dan aku ikut senang ketika melihat Adam, teman baruku itu menjadi juara 1 lomba adzan. 
"Selamat ya, Adam. Kamu hebat sekali."
"Terima kasih, ya Fayad." kata Adam.

Setelah seminggu berlalu, tibalah hari pernikahan bibiku. Acaranya meriah sekali. Tim rebana yang ikut lomba Muharram di kecamatan, ikut ditampilkan di acara bibi. Semua orang tampak bahagia. 

Tak terasa 10 hari berlalu. Aku dan orang tuaku harus kembali ke Jepang. 
Aku sedih karena harus berpisah lagi dengan keluarga besarku juga dengan Adam, teman baruku. Tapi aku juga senang, karena aku mendapatkan pengalaman seru. Ini Muharram pertamaku yang istimewa! Aku takkan lupa untuk berpuasa sunnah tanggal 10 Muharram nanti. Aku akan menandainya di kalenderku sesampainya di Jepang. 😊


-------------------
Fitri Purbasari
19 Muharram 1440 H

Tambah Teman WA

  Menambah teman menambah rezeki.. Bismillah. Jalin silaturahim, tak pernah rugi. Insyaallah.