Minggu, 28 Oktober 2018

Ngaji Lagi..Ngaji Lagi..

"FITRIIIII!! NAIK!! 
Aku dan teman-teman pun belingsatan naik dari kolam ikan itu saat mendengar teriakan Mamah di pinggir jalan yang tak jauh dari kolam tempat kami berenang tadi.
Dengan perasaan takut kuhampiri Mamah yang sudah bersiap ngomel. "Waktunya ngaji masih aja main! bla..bla..bla..." 
Aku pun segera membersihkan diri, sholat dzuhur dan pergi ke madrasah untuk mengaji.

.......................................................................................................

Di lain kesempatan, terdengar pengumuman dari speaker pesantren dekat rumah.
"Yang belum datang Neng Pipit, Nyai Yuli,... Harap segera datang. Pengajian akan dimulai."
Terdengar namaku dipanggil (Neng Pipit), tapi aku berusaha menyembunyikan rasa malu.
"Aaah kali ini aja libur ngaji gak papa", pikirku sambil pura-pura tidur di kamar.
Tapi, "Teh, tuh dah dipanggil!", kata Mamah.
Aku pura-pura gak denger.
"Pak, tuh si teteh gak mau ngaji!" 
Si Mamah emang kaya peramal hihi.. tahu banget kalo anaknya pura-pura, dan tahu banget anaknya akan bangkit jika Bapak sudah dipanggil. 😁
Maka, sang anak pun bangkit dan berangkat ngaji.

.......................................................................................................

"Mah, hujan", kataku meminta dispensasi mengaji magrib di rumah ustadz yang lokasinya hanya terpisah 4 rumah dari rumah kami.
"Ada payung" respon Mamah tanda menolak harapanku.
Akupun berangkat sambil manyun.

......................................................................................................

Ngaji siang di madrasah sepulang sekolah, ngaji sore di pesantren setelah sholat ashar, dan ngaji di rumah ustadz setelah maghrib. Jadwalku sewaktu kecil, usia SD, memang penuh sama ngaji, Liburnya hari Jum'at saja. Dan orang tuaku, Bapak dan Mamah sangat ketat soal urusan sholat dan ngaji. Kalau aku belum pulang, diuber-uber tuh, dicari sampe dapat, dan disuruh ngaji. 

Bahkan di liburan panjang sekolah pun, agenda utama liburannya adalah mondok di pesantren selama 2 pekan. Pesantrennya berbeda setiap liburan.



Pernah suatu waktu, saat itu mau naik kelas 3 SD. Aku dan kakak sepupuku yang cowok dikirim ke pesantren di kecamatan tetangga. Dulu rasanya jauh banget karena belum ada angkot seperti sekarang. Setiap maghrib tiba, perasaanku sedih sekali, rasa ingin pulang selalu menggelayuti. Nangis aja bisanya, sambil meraung minta pulang. Tiba-tiba muncul ide untuk minta dianterin ojek. Aku maksa minta pulang sama bibi pengawas dan minta dianterin sama ojek aja. Nah, pulanglah aku dianter Mang Ojek.

Sesampainya di rumah, aku malah dimarahin Bapa. Dan besok paginya, aku dianterin lagi ke pesantren tak cuma diiringi Mamah dan Bapa, tapi juga Kakek, Nenek, dan Uwa. 😜
Alhasih, akupun berusaha bersabar untuk mengikuti program mondok sampe selesai.

......................................................................................

Meski seketat itu aturan Bapak dan Mamah soal mengaji, anehnya tak pernah membuatku trauma atau jadi bosan mengaji. Malah, kupikir, kebiasaan yang dulu dipaksakan itu menjadi darah daging dalam jiwaku, cieee...beneran loh! Sampai dewasa, rasanya ada yang hampa kalo belum punya jadwal mengaji (ta'lim). Semoga menjadi amal jariyah buat Mamah (almh) dan Bapak. 😊


Sumber Gambar:
https://dimaspramudia.web.id/makna-adab-bagi-anak-usia-dini/gambar-anak-mengaji-kartun/


Depok, 28 Oktober 2018
Fitri Purbasari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambah Teman WA

  Menambah teman menambah rezeki.. Bismillah. Jalin silaturahim, tak pernah rugi. Insyaallah.