Ibu Guru
Anda ibu guru?
Tentu saja! Seorang ibu adalah guru utama dan pertama bagi anak-anaknya. Setuju kan, mom?!
Tapi, seringkali kita terjebak pada mindset bahwa menjadi guru bagi anak itu adalah bertugas dengan mengulang pelajaran sekolahnya. Apalagi saat mau musim ujian seperti sekarang. Kerasa banget kan ya jadi gurunya. Kaya tinggal pake seragam aja rasanya.. apalagi yang pernah mengajar di sekolah formal. hhihi.
Tidak Ada yang salah dengan itu, ya mom. Tapi kita semestinya melakukannya dengan lebih mendalam dan memaknai setiap isi silabus/poin materi yang dipelajari. Ada banyak nilai yang bisa berguna bagi anak dan fakta serta ilmu yang bisa membuat anak berbinar dan bersinar matanya. Cieee.. 😁 Selebihnya menjadi guru bagi anak itu sangatlah luas dimensinya. Ibu adalah guru dalam seluruh lini kehidupan anak. Guru mengajarkan tauhid dan meneladankan segala kebaikan. Semua yang dilihat, didengar, dan dirasa bersama bisa menjadi bahan ajar untuk mengenalkan Sang Pencipta dan ilmu-ilmu lainnya. Seorang ibu adalah guru sepanjang masa.
Menjadi ibu perlu banyak ilmu, khususnya dalam menjalankan peran sebagai guru di waktu belajar anak. Yang Paling utama adalah ilmu penguasaan diri. Hihii yaa.. let's say pengendalian emosi ya. Bener gak? 😄 Perlu latihan olah nafas, senyum tiga senti (simetris yaa 😊), keterampilan menunggu, memberi clue. Apa lagi coba? 😀 Oh iya, Cara ngeles yang baik dan benar jika ada pertanyaan anak yang kodenya belum tersimpan di otak kita. 😆 Nah perlu strategi juga untuk sama-sama menjari jawaban atas pertanyaan itu yaa, jangan lepas tanggung jawab. 😅 Dengan bekerja cerdas dan ikhlas, InsyaAllah Kita akan dikenang sebagai guru yang baik hati dan menyenangkan! 😍
Selamat Hari Guru!
Kita semua hebat 🌹
Special thanks to my parents, my husband, my kids, my family, my best friends, my partners, and all teachers I have.
Barakallahu fiikum 💐
Depok, 25 November 2018
Sabtu, 24 November 2018
Jumat, 09 November 2018
Ambi, Ayo Makan!
“Ayo
kita berlomba mencari rumput segar!” seru Ambi kepada teman-temannya.
Ambi
adalah seekor kambing etawa betina yang sangat lincah. Dia tinggal di sebuah ladang
peternakan yang luas. Dia selalu bersemangat untuk mencari rumput segar di
peternakan itu setiap pagi. Dia selalu berlari kesana-kemari. Dia makan rumput
dengan sangat lahap. Dia ingin memberikan susu yang banyak kepada Pak Tani yang
baik hati.
“Tuh
disana!” Ambi menemukan semak rumput
segar. Teman-temannya pun mengikutinya.
“Nyam..nyam..nyam!
Wah sedap sekalli rumput ini!” kata Ambi.
“Hei,
lihat disana ada rumput lagi!” Dia berlari menuju kumpulan rumput yang lain,
sementara teman-temannya masih asyik dan santai melahap rumput yang pertama
ditemukan.
“Aku
mau yang itu!” Dia pun berlari menuju rumput itu. “Nyam..nyam..” dia makan
dengan cepat sambil melihat ke sekeliling. “Itu ada lagi! Sepertinya rumput itu
lebih enak!” Dia pun berlari menuju rumput yang lain.
“Ah yang sebelah sana mungkin lebih enak!” dia berlari lagi menuju rumput yang dekat pohon mangga.
“Ah yang sebelah sana mungkin lebih enak!” dia berlari lagi menuju rumput yang dekat pohon mangga.
Tiba-tiba..”Aaaawww!!!”
Ambi berteriak kesakitan. Rupanya dia menggigit sesuatu yang tajam di rumput. Dia
menangis. Teman-temannya segera menghampiri. Ayah ibunya pun datang.
“Kamu kenapa, Ambi?” Tanya sang ayah.
“Kamu kenapa, Ambi?” Tanya sang ayah.
“Huhuhuhu..
ada sesuatu yang tajam di mulutku,” jawab Ambi.
Lalu ibu Ambi memeriksa mulut anaknya itu.
“Oh, sepertinya itu duri. Ada duri menempel di gusi atas,” kata ibu.
“Sakit sekalli, bu!” Ambi mengerang.
“Sebaiknya kita minta tolong Pak Tani, yuk!” ajak sang ibu.
Lalu ibu Ambi memeriksa mulut anaknya itu.
“Oh, sepertinya itu duri. Ada duri menempel di gusi atas,” kata ibu.
“Sakit sekalli, bu!” Ambi mengerang.
“Sebaiknya kita minta tolong Pak Tani, yuk!” ajak sang ibu.
Priiiiiit!
terdengar peluit Pak Tani memanggil para kambing.
Semua kambing beriringan menuju kandang.
Satu per satu kambing pun digiring Pak Tani masuk ke kandang-kandang mereka.
Satu kandang berisi tiga kambing.
Ambi tinggal bersama ayah ibunya dalam satu kandang.
Mereka siap diperah setelah makan.
Semua kambing beriringan menuju kandang.
Satu per satu kambing pun digiring Pak Tani masuk ke kandang-kandang mereka.
Satu kandang berisi tiga kambing.
Ambi tinggal bersama ayah ibunya dalam satu kandang.
Mereka siap diperah setelah makan.
Ambi
tak tahan dengan duri yang menancap di gusinya itu.
Dia terus mengembik. “embeek… embeeeek… embeeek”
Ayah ibunya merasa kasihan kepadanya.
“Semoga Pak Tani segera menghampiri kita ya, Nak!” ibu kambing berharap dengan khawatir.
Sementara itu Ambi terus mengembik dan melompat-lompat di atas kandang. Dia berusaha memanggil Pak Tani.
Dia terus mengembik. “embeek… embeeeek… embeeek”
Ayah ibunya merasa kasihan kepadanya.
“Semoga Pak Tani segera menghampiri kita ya, Nak!” ibu kambing berharap dengan khawatir.
Sementara itu Ambi terus mengembik dan melompat-lompat di atas kandang. Dia berusaha memanggil Pak Tani.
Kemudian
Pak Tani pun menghampiri kandang Ambi. Dia merasa heran dengan sikap Ambi yang
terlalu lincah. Pak Tani menggiring Ambi dan ibunya ke kandang pemerahan susu.
Ambi masih terus mengembik dan tak mau diam.
“Ada apa denganmu, Ambi? Apa kamu sakit?” Tanya Pak Tani sambil memeriksa tubuh Ambi.
“Embeeek.. embeeeek.. embeeeek..” Ambi terus mengembek sambil sesekali membuka mulutnya.
“Ada apa di mulutmu?” Pak Tani memeriksa mulut Ambi.
“Ooh, rupanya duri ini yang membuatmu sangat kesakitan, ya” kata Pak Tani sambil mencabut duri kecil yang menancap di gusi bagian atas Ambi.
“Nah, sudah. Tenanglah. Durinya sudah kuambil. Sekarang kau tak akan kesakitan lagi.” Pak Tani mengelus-ngelus badan Ambi yang besar itu.
“Sekarang aku akan memerah susumu. Tenang ya, kambing yang baik!” kata Pak Tani kepada Ambi yang sudah terlihat lega.
“Terima kasih, Pak Tani.” Kata Ambi di dalam hati.
“Waaah banyak sekali susumu, Ambi! Kau pasti makan dengan lahap lagi ya. Hebat, Ambi! Terima kasih, yaa.” Pak Tani tersenyum bahagia kepada Ambi.
“Ada apa denganmu, Ambi? Apa kamu sakit?” Tanya Pak Tani sambil memeriksa tubuh Ambi.
“Embeeek.. embeeeek.. embeeeek..” Ambi terus mengembek sambil sesekali membuka mulutnya.
“Ada apa di mulutmu?” Pak Tani memeriksa mulut Ambi.
“Ooh, rupanya duri ini yang membuatmu sangat kesakitan, ya” kata Pak Tani sambil mencabut duri kecil yang menancap di gusi bagian atas Ambi.
“Nah, sudah. Tenanglah. Durinya sudah kuambil. Sekarang kau tak akan kesakitan lagi.” Pak Tani mengelus-ngelus badan Ambi yang besar itu.
“Sekarang aku akan memerah susumu. Tenang ya, kambing yang baik!” kata Pak Tani kepada Ambi yang sudah terlihat lega.
“Terima kasih, Pak Tani.” Kata Ambi di dalam hati.
“Waaah banyak sekali susumu, Ambi! Kau pasti makan dengan lahap lagi ya. Hebat, Ambi! Terima kasih, yaa.” Pak Tani tersenyum bahagia kepada Ambi.
Setelah
ibu Ambi selesai diperah, mereka digiring Pak Tani kembali ke kandangnya.
“Ayah, durinya sudah dicabut oleh Pak Tani” seru ibu Ambi dengan bahagia.
“Oh, syukurlah. Sekarang kau tidak kesakitan lagi, Ambi.” Kata sang ayah.
“Iya, ayah.. aku sekarang mau tidur dulu. Aku capek.” Kata Ambi.
Dia pun tertidur dengan cepat.
“Ayah, durinya sudah dicabut oleh Pak Tani” seru ibu Ambi dengan bahagia.
“Oh, syukurlah. Sekarang kau tidak kesakitan lagi, Ambi.” Kata sang ayah.
“Iya, ayah.. aku sekarang mau tidur dulu. Aku capek.” Kata Ambi.
Dia pun tertidur dengan cepat.
Sore
hari, Pak Tani meniup peluit lagi. Tanda waktu makan telah tiba.
Semua kambing dilepaskan untuk mencari makan sendiri.
Tapi, Ambi terlihat tidak semangat.
“Ambi, ayo kita mencari rumput.” Ajak sang Ayah.
“Aku tidak mau ayah. Aku mau disini saja.” Ambi ingin diam di kandangnya.
“Kenapa?” Tanya sang ibu.
“Aku tidak mau makan, ibu.” Jawab Ambi.
“Baiklah, mungkin kamu masih capek ya. Kita bawakan saja rumputnya kesini, Bu” usul sang ayah.
Ayah dan ibu Ambi pun segera mencari rumput segar. Setelah mereka selesai makan, mereka membawakan beberapa rumput untuk dimakan Ambi di kandang.
“Ini, nak, makanlah. Rumputnya enak sekali.” Sang ibu menyodorkan rumput segar kepada Ambi.
“Tidak, bu, aku tidak mau. Aku tidak mau makan.” Ambi menolak dan menutup wajahnya dengan telinganya yang lebar.
“Kenapa, Ambi?” Tanya sang ayah.
“Aku capek, yah, ingin tidur saja” jawab Ambi.
“Baiklah.” Kata sang ayah.
Malam pun tiba. Lalu mereka bertiga tidur berdekatan.
Hujan turun dengan lebat. Udara jadi semakin dingin. Ayah ibu memeluk Ambi.”Semoga kamu selalu sehat, nak” bisik sang ibu.
Semua kambing dilepaskan untuk mencari makan sendiri.
Tapi, Ambi terlihat tidak semangat.
“Ambi, ayo kita mencari rumput.” Ajak sang Ayah.
“Aku tidak mau ayah. Aku mau disini saja.” Ambi ingin diam di kandangnya.
“Kenapa?” Tanya sang ibu.
“Aku tidak mau makan, ibu.” Jawab Ambi.
“Baiklah, mungkin kamu masih capek ya. Kita bawakan saja rumputnya kesini, Bu” usul sang ayah.
Ayah dan ibu Ambi pun segera mencari rumput segar. Setelah mereka selesai makan, mereka membawakan beberapa rumput untuk dimakan Ambi di kandang.
“Ini, nak, makanlah. Rumputnya enak sekali.” Sang ibu menyodorkan rumput segar kepada Ambi.
“Tidak, bu, aku tidak mau. Aku tidak mau makan.” Ambi menolak dan menutup wajahnya dengan telinganya yang lebar.
“Kenapa, Ambi?” Tanya sang ayah.
“Aku capek, yah, ingin tidur saja” jawab Ambi.
“Baiklah.” Kata sang ayah.
Malam pun tiba. Lalu mereka bertiga tidur berdekatan.
Hujan turun dengan lebat. Udara jadi semakin dingin. Ayah ibu memeluk Ambi.”Semoga kamu selalu sehat, nak” bisik sang ibu.
Besoknya,
sinar matahari pagi menembus lubang di kandang Ambi.
Ambi membuka matanya. Tapi badannya masih malas untuk bangun.
“Priiiiiit! Priiit!” bunyi peluit Pak Tani menggerakan para kambing etawa itu ke rerumputan. Semuanya bersemangat. Tapi tidak dengan Ambi. Dia tidak mau keluar dari kandang. Dia tidak mau mencari rumput segar.
Ambi membuka matanya. Tapi badannya masih malas untuk bangun.
“Priiiiiit! Priiit!” bunyi peluit Pak Tani menggerakan para kambing etawa itu ke rerumputan. Semuanya bersemangat. Tapi tidak dengan Ambi. Dia tidak mau keluar dari kandang. Dia tidak mau mencari rumput segar.
“Ayo,
Ambi kita cari rumput segar!” ajak ayah.
“Tidak mau, ayah. Aku tidak mau makan” jawab Ambi.
“Kemarin sore kamu tidak makan, masa sekarang tidak makan lagi.” Sang ibu merasa cemas.
“Tidak, bu. Biarkan aku di kandang saja”
Lalu, ayah ibunya pun keluar kandang dan makan rumput segar seperti biasa.
Mereka juga membawa pulang beberapa rumput untuk dimakan Ambi, tapi Ambi menolaknya lagi.
Pak Tani datang dan membawa Ambi dan ibunya untuk diperah.
Pak Tani heran saat memerah ambing Ambi beberapa kali tapi tidak ada susu yang keluar.
“Loh, ada apa denganmu, Ambi? Kemarin susumu sangat banyak. Tapi sekarang hampir tidak ada susu yang keluar.” Kata Pak Tani.
“Badanmu juga tampak lemas. Apa kamu sakit?” Pak Tani memeriksa badan dan mulut Ambi dengan teliti. Tak ada yang salah. Pak Tani merasa khawatir.
“Aku akan memanggil dokter untukmu nanti. Sekarang lebih baik kamu istirahat saja di kandang, ya” Pak Tani menuntun Ambi kembali ke kandangnya.
“Tidak mau, ayah. Aku tidak mau makan” jawab Ambi.
“Kemarin sore kamu tidak makan, masa sekarang tidak makan lagi.” Sang ibu merasa cemas.
“Tidak, bu. Biarkan aku di kandang saja”
Lalu, ayah ibunya pun keluar kandang dan makan rumput segar seperti biasa.
Mereka juga membawa pulang beberapa rumput untuk dimakan Ambi, tapi Ambi menolaknya lagi.
Pak Tani datang dan membawa Ambi dan ibunya untuk diperah.
Pak Tani heran saat memerah ambing Ambi beberapa kali tapi tidak ada susu yang keluar.
“Loh, ada apa denganmu, Ambi? Kemarin susumu sangat banyak. Tapi sekarang hampir tidak ada susu yang keluar.” Kata Pak Tani.
“Badanmu juga tampak lemas. Apa kamu sakit?” Pak Tani memeriksa badan dan mulut Ambi dengan teliti. Tak ada yang salah. Pak Tani merasa khawatir.
“Aku akan memanggil dokter untukmu nanti. Sekarang lebih baik kamu istirahat saja di kandang, ya” Pak Tani menuntun Ambi kembali ke kandangnya.
“Hah,
dokter? Aku akan diperiksa dokter?” Ambi merasa takut. Dia mengingat terakhir
kali dokter datang menyuntikkan sesuatu
ke badannya.
“Ibu, aku tak mau disuntik lagi. Aku tidak sakit kok, Bu” kata Ambi.
“Tapi kamu sejak kemarin tidak makan makanya hari ini susumu tidak keluar. Mungkin kamu memang sakit, Nak” kata sang ibu.
“Tidak, bu. Aku hanya takut makan. Aku takut ada duri lagi di rumput yang aku makan. Rasanya sakit sekali.” Ambi mengaku.
“Oh, jadi itu alasannya kamu malas makan?” kata sang ayah.
“Coba kita kembali ke tempat kamu memakan rumput berduri itu.” Ajak Ayah
“Disini, yah, aku makan rumput itu disini.” Ambi menunjukkan rerumputan yang ada di bawah pohon mangga. “Ini rumput yang biasa kita makan kan? Rumput ini tak berduri.”
Lalu mereka memeriksa rumput yang ada disitu.
“Naaah, ini dia tanaman yang mungkin termakan olehmu. “ seru Ayah.
“Ini putri malu, biasa tumbuh dekat rumput yang kita makan. Batangnya berduri." kata Ayah.
"Ooh..ini ya tanaman putri malu. Dia punya bunga yang cantik ya." sahut Ambi.
"Iya, daunnya yang kecil-kecil itu akan menutup jika disentuh atau ditiup. Daunnya jadi terlihat layu. Saat dia menutup, batang berdurinya akan mudah terlihat. Kenapa kamu sampai bisa tertusuk duri itu? Selama ini tak ada yang pernah mengalaminya.” Kata Ayah.
“hemm.. mungkin karena aku makan terburu-buru dan selalu melihat sekeliling. Aku selalu tak sabar untuk mencoba semua rumput yang ada disini. Mataku kurang memperhatikan apa yang aku makan.” Ambi menyadari kesalahannya.
“Jadi, sekarang kamu mau makan?” Tanya ibu.
“Iya bu, aku mau makan lagi. Aku ingin memberi susu yang banyak kepada Pak Tani.” Seru Ambi bersemangat.
Dia
lalu melahap rumput dengan lahap dan pelan. “Ibu, aku tak mau disuntik lagi. Aku tidak sakit kok, Bu” kata Ambi.
“Tapi kamu sejak kemarin tidak makan makanya hari ini susumu tidak keluar. Mungkin kamu memang sakit, Nak” kata sang ibu.
“Tidak, bu. Aku hanya takut makan. Aku takut ada duri lagi di rumput yang aku makan. Rasanya sakit sekali.” Ambi mengaku.
“Oh, jadi itu alasannya kamu malas makan?” kata sang ayah.
“Coba kita kembali ke tempat kamu memakan rumput berduri itu.” Ajak Ayah
“Disini, yah, aku makan rumput itu disini.” Ambi menunjukkan rerumputan yang ada di bawah pohon mangga. “Ini rumput yang biasa kita makan kan? Rumput ini tak berduri.”
Lalu mereka memeriksa rumput yang ada disitu.
“Naaah, ini dia tanaman yang mungkin termakan olehmu. “ seru Ayah.
“Ini putri malu, biasa tumbuh dekat rumput yang kita makan. Batangnya berduri." kata Ayah.
"Ooh..ini ya tanaman putri malu. Dia punya bunga yang cantik ya." sahut Ambi.
"Iya, daunnya yang kecil-kecil itu akan menutup jika disentuh atau ditiup. Daunnya jadi terlihat layu. Saat dia menutup, batang berdurinya akan mudah terlihat. Kenapa kamu sampai bisa tertusuk duri itu? Selama ini tak ada yang pernah mengalaminya.” Kata Ayah.
“hemm.. mungkin karena aku makan terburu-buru dan selalu melihat sekeliling. Aku selalu tak sabar untuk mencoba semua rumput yang ada disini. Mataku kurang memperhatikan apa yang aku makan.” Ambi menyadari kesalahannya.
“Jadi, sekarang kamu mau makan?” Tanya ibu.
“Iya bu, aku mau makan lagi. Aku ingin memberi susu yang banyak kepada Pak Tani.” Seru Ambi bersemangat.
Dia makan sambil menikmati harumnya rumput yang segar itu.
“Semoga besok susuku banyak.” Ambi berharap dengan bahagia.
Langganan:
Komentar (Atom)
Tambah Teman WA
Menambah teman menambah rezeki.. Bismillah. Jalin silaturahim, tak pernah rugi. Insyaallah.
-
Melatih Kecerdasan, itu tema game di level ketiga kuliah Bunda Sayang kali ini. Game yang dilakukan berkaitan dengan family project yan...
-
Gambar diatas merupakan aliran rasa ter-Kece di level 2 perkuliahan Bunda Sayang ini. Isinya sungguh jujur ya. hehe.. menunjukkan segal...
-
Yes, the next level is collecting the red eggs. Materi kedua semakin menambah binar di mata saya sebagai seorang pembelajar. Setelah menon...
