Minggu, 22 September 2019

Fun Storytelling

(sumber: dreamstime.com)

Apa Itu Storytelling?
Storytelling alias bercerita menurut KBBI adalah menuturkan cerita yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal peristiwa, kejadian, dan sebagainya baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan belaka. Setiap manusia pada dasarnya suka bercerita. Kita tidak bisa lepas dari bercerita, iya kan? Namun tentu tujuan bercerita bisa berbeda-beda. Nah disini saya akan berbagi tentang “Bercerita/Storytelling kepada Anak”.
Maksay, hehe.. gapapa ya saya manggil ibu-ibu disini dengan panggilan itu. Biar lebih akrab gitu, yak! Hehe.
Well, maksay. Saya yakin diantara kita sudah banyak yang telah mempraktekkan storytelling kepada anak-anak, minimal anak sendiri, ya. Dalam penyampaiannya kita seringkali menggunakan beberapa media dalam bercerita, bisa berupa/bersumber dari video, buku, boneka, benda-benda sekitar, dll. Selain itu juga, kita melibatkan intonasi suara yang bermacam-macam. Pernah, kan, mak?
Kerasa kan ya manfaatnya?
Apa Saja Manfaat Storytelling?
Berikut ada beberapa manfaat yang saya kutip dari beberapa sumber, yang alhamdulillah saya juga merasakannya.
Menurut Hibana (dalam Kusmiadi, 2008), manfaat dari kegiatan storytelling alias bercerita dapat digolongkan menjadi 2 yaitu :
1.      Manfaat Untuk Pencerita:
a.    Mengembangkan daya pikir dan imajinasi.
Bagi kita ataupun anak, storytelling akan membuat kecerdasan dan kreativitas meningkat. Bagaimana tidak, sebagai pencerita terutama bila memakai sumber pengalaman, kita mesti meramu cerita itu agar isinya lebih bernilai atau bermakna sekaligus asyik. Kita mesti kreatif.
b.    Mengembangkan kemampuan berbicara.
Bercerita dengan ekspresi, gaya, intonasi dan gesture yang beragam tentu akan membuat speaking skill kita terasah.
c.    Mengembangkan daya sosialisasi.
Kemampuan kita membaca audience bisa terlatih. Kita akan tahu ekspresi audience yang sangat antusias dengan topik cerita yang kita bawakan ataupun yang sebaliknya. Kita akan lebih peka melihat respon mereka dan semakin lama berinteraksi via storytelling, khususnya dengan anak, kita akan tahu cerita-cerita seperti apa yang mereka minati.
d.    Sebagai sarana komunikasi.
Ketik kita menasehati anak dengan gaya satu arah sebagai orang dewasa, seringkali respon yang terlihat dari anak tidak membuat kita lega. Hehe.. Nasehat kita sepertinya gak didengar. Tapi akan berbeda jika nasehat itu disisipkan lewat storytelling. Emosi dan fokus anak akan digiring ke arah nilai yang ingin kita tanamkan dengan suasana yang nyaman buat dia. Dsinilah anak dinasehati tanpa merasa didikte.
e.    Media pembelajaran
Mengajarkan anak tentang apapun bisa dengan storytelling. Misal akan mengenalkan anak tentang pembagian dalam matematika. Kita bisa mengajarkannya dengan media cerita. Kalau kita tak punya buku cerita yang isinya tentang pembagian, ya bikin cerita karangan saja. Tokohnya bisa anak kita. Insyaallah ceritanya akan lebih bermakna.
f.     Mengembangkan daya ingat.
Nah ini, penting banget yaa kalau bagi orang tua seperti kita agar menjaga kesehatan ingatan. Hehee.. Maksudnya agar kita tak mudah pikun kelak. Otak kita mesti sering dipakai hehe. Berpikir merangkai cerita dan menceritakannya serta menyambungkan cerita yang lama dengan yang baru. Hehe. Karena mak, bisa jadi loh, saat kita mengarang sebuah cerita di hari #1, besoknya anak akan meminta kelanjutannya. Otomatis kita mesti ingat tokoh-tokoh di cerita sebelumnya dan mereka ngapain ajah. Anak akan sangat mengingatnya loh! Kalau kita lupa, bisa jadi anak protes! “Bukan gitu, Mi!” Hahaha! Makanya penting untuk menuliskan cerita hasil karangan kita ya, Mak! Catet! (*pengalaman cerita Si Ikan Mas. Haha!)

2.      Manfaat Untuk Pendengar:
a.    Mengembangkan fantasi, empati dan berbagai jenis perasaan lain.
Ketika kita menyampaikan sebuah storytelling untuk anak, pada saat itu aktivitas emosional otak anak akan memproses “olah rasa”. Sehingga, pesan dan nilai moral yang diceritakan akan melatih rasa empati anak. Jadi anak dapat memahami dan mengenal emosi pada dirinya dan orang lain.
Selain itu, anak akan membayangkan wujud tokoh, tempat dan situasi dari cerita yang disimaknya.
b.    Menumbuhkan minat baca.
Ketika kita melakukan storytelling dengan media buku. Anak akan tergerak untuk berinteraksi dengan buku tersebut, ya minimalnya mau memegangnya, kemudian “kepo”. Teknik storyreading dengan menunjuk (minimalnya) ke kata-kata yang besar (judul) saat kita bercerita, lama-lama anak akan bisa membaca kata-kata itu karena sering melihatnya. Semakin sering, semakin banyak kata yang akrab dengan anak. Then, kita akan terkaget senang saat tiba-tiba anak kita sudah bisa membaca bahkan menulis dengan sendirinya. Dia akan senang membaca. Anak akan keranjingan buku! MasyaAllah.
c.    Membangun kedekatan dan keharmonisan.
Ikatan antara orang tua dan anak akan sangat bisa dibangun melalui ikhtiar storytelling. Saat anak melihat orang tuanya bersedia meluangkan waktu untuk mereka sebelum tidur, minimalnya, anak akan sangat merasa dicintai. Momen berharga seperti ini akan sangat berguna untuk kekokohan diri anak. Kita sebagai orang tua pun tentu akan merasakan kebahagiaan saat anak antusias menyambut kita bercerita. Berawal dari storytelling, anak akan nyaman bercerita pada kita tentang apapun. Ini modal keharmonisan keluarga yang sangat berharga.
d.    Media pembelajaran. 
Yes seperti disinggung di bagian 1, anak akan belajar dengan fun melalui storytelling. Ada konteks yang menggambarkan konsep ilmu atau nilai yang sedang dipelajari. Bermakna!

Bagaimana Agar Storytelling Menyenangkan?

Perlu diingat bahwa khususnya anak usia dini memiliki rentang konsentrasi yang tidak lama, maka kita harus memperhatikan cara-cara agar Anak betah menyimak cerita kita. Berikut ada beberapa tips untuk menciptakan Fun Storytelling.
ü  Jadwalkan sesi bercerita setiap hari dimana saat itu adalah waktu yang nyaman buat anak. Misal di waktu anak menjelang tidur, baik tidur siang ataupun tidur malam.
ü  Pilih cerita yang temanya “gue banget” buat anak. Baik dari sisi kesukaan ataupun tokohnya. Sesuaikan juga dengan tahapan perkembangan usianya.
ü  Sesuaikan durasi dengan kondisi anak. Jika anak masih ON mungkin kita bisa bercerita berbuku-buku, tapi ketika anak sudah nampak lelah, secukupnya saja.
ü  Gunakan berbagai media, misal buku, gambar, boneka, benda yang ada di sekitar, dll. Bisa menggunakan satu tokoh untuk membawakan cerita buat anak, misal boneka burung hud hud favoritnya. Biarkan hud hud yang membuka sesi cerita. Bisa juga ganti boneka pencerita setiap beberapa waktu.
ü  Berceritalah dengan ekspresif. Perhatikan kontak mata. Bisa bersuara berbeda di setiap karakter kisah yang diceritakan ataupun ekpresi muka yang beragam dan gesture yang seru. Ajak anak untuk menjawab pertanyaan agar lebih tertarik dan masuk dalam alur cerita yang diberikan
ü  Jangan malu berekspresi lebay saat bercerita. Bikin dramatisasi cerita. Anak akan sangat menyukainya.
ü  Jangan sampai bosan untuk bercerita pada anak, meskipun kita mengantuk dan malas. Usahakan untuk menjadikan storytelling sebuah rutinitas yang menyenangkan untuk anak. Ulang cerita yang pernah diberikan dan pancing anak untuk meneruskan sebagian ceritanya atau biarkan anak membuat cerita kelanjutannya sendiri. Kegiatan ini dapat memacu daya ingat anak.
ü  Sesekali bisa minta Anak yang bercerita dan emak bapa dan kakak menjadi audience yang ekspresif bahkan sangat ekspresif. Hihiii.. Rasakan kehangatannya!

Sekian dulu ya... Semoga bermanfaat!
Have Fun!!


Referensi:


Ciamis, September 2019
FITRI PURBASARI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambah Teman WA

  Menambah teman menambah rezeki.. Bismillah. Jalin silaturahim, tak pernah rugi. Insyaallah.