Sabtu, 19 Oktober 2019

Taqarrub Itu Kunci

Taqarrub, mendekatkan diri kepada Allah Sang Pemilik hati.

Astaghfirullah, rasanya episode taqarrub setelah menikah dan mempunyai dua anak cenderung menurun, baik dalam hal kuantitas ibadah maupun kualitasnya. Entah apa karena diri yang belum ajeg ya..padahal di episode menjadi ibu ini begitu banyak liku dan jiwa raga yang harus diurus. Harusnya lebih mendekat kelada Allab, karena pertolongan yang kita butuhkan semakin banyak.

Dulu semasa lajang, tahajjud hampir selalu setiap hari, dzikir almatsurat hamlir tak lernah terlewat 2x sehari. Tapi kini, rasanya jauh sekali. Lalai sekali. Astaghfirullah. Tapi saya sadar banget kedua amal sholeh utama itu sangat besar artinya bagi kelancaran kehidupan saya. Maka, kini upaya meninggikan kembali intensitas kedua ibadah itu semakin gencar meski tertatih.

Alhamdulillah, meski PR saya dengan yang du itu berat, amal sholeh lain ada yang masih dengan mudah dilakukan, yaitu sedekah dan berkiprah di bidang edukasi anak-anak lingkungan sekitar. Saya buka rumah baca dan rumah tahfidz di rumah orang tua saya yang kini saya tempati. Itu semua saya lakukan sebagai wujud bakti kepada orangtua dan para leluhur saya juga guru-guru saya. Semoga Allah meridhoi jalan ini. Oia, kiprah saya ini adalah berkat feeling, ilham, dari Allah yang menggerakkan hati saya untuk balik kampung dari perantauan dan memulai kiprah di tanah leluhur. Karena sebenarnya sudah sejak lama saya ingin melakukannya.. Bahkan cita-cita sarjana membangun desa sudah sejak masih kuliah S1 muncul di hati dan benak saya. Itu hampir 12 th yang lalu.

The Calling itu semakin kuat saat saya membuka rumah baca di perantauan, yaitu kota Depok. Sebelumnya saya pun aktif menuntut ilmu di berbagai komunitas dan forum juga pernah membina ibu-ibu dan anak-anak sekitar tempat tinggal. Saat itu gelisah hati ketika menyaksikan kenyataan "di daerahku jarang banget komunitas atau forum edukatif seperti di Depok ini". Maka akhirnya saya pun menyambut panggilan hati itu. Saya curhat kepada suami dan meminta izin kepadanya untuk tinggal dan berbakti di kampung halaman. Melingkar mekar berawal dari keluarga kecil kami.

Sampai saat ini, dalam mengelola apapun, saga selalu meminta petunjuk Allah. Dan kerasa yaa, ada feeling-feeling spesial saat Allah meridhoi satu hal dan tidak pada hal lain..jug tentang timing, strategi, dll. Masyaallah.

Dan tentu, penjagaan diri dari maksiat sekecil apapun itu juga utama. Bertaubat dan meminta maaf saat diri khilaf, khususnya kepada suami, anak dan orang tua tak lagi diganggu rasa gengsi. Pokoknya semua atas dasar melakukan apa yang Allah sukai.

Sekian curhatan saya tentang taqarrub. 😊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambah Teman WA

  Menambah teman menambah rezeki.. Bismillah. Jalin silaturahim, tak pernah rugi. Insyaallah.