Sabtu, 24 November 2018

Ibu Guru

Ibu Guru

Anda ibu guru?
Tentu saja! Seorang ibu adalah guru utama dan pertama bagi anak-anaknya. Setuju kan, mom?!
Tapi, seringkali kita terjebak pada mindset bahwa menjadi guru bagi anak itu adalah bertugas dengan mengulang pelajaran sekolahnya. Apalagi saat mau musim ujian seperti sekarang. Kerasa banget kan ya jadi gurunya. Kaya tinggal pake seragam aja rasanya.. apalagi yang pernah mengajar di sekolah formal. hhihi.


Tidak Ada yang salah dengan itu, ya mom. Tapi kita semestinya melakukannya dengan lebih mendalam dan memaknai setiap isi silabus/poin materi yang dipelajari. Ada banyak nilai yang bisa berguna bagi anak dan fakta serta ilmu yang bisa membuat anak berbinar dan bersinar matanya. Cieee.. 😁 Selebihnya menjadi guru bagi anak itu sangatlah luas dimensinya. Ibu adalah guru dalam seluruh lini kehidupan anak. Guru mengajarkan tauhid dan meneladankan segala kebaikan. Semua yang dilihat, didengar, dan dirasa bersama bisa menjadi bahan ajar untuk mengenalkan Sang Pencipta dan ilmu-ilmu lainnya. Seorang ibu adalah guru sepanjang masa.

Menjadi ibu perlu banyak ilmu, khususnya dalam menjalankan peran sebagai guru di waktu belajar anak. Yang Paling utama adalah ilmu penguasaan diri. Hihii yaa.. let's say pengendalian emosi ya. Bener gak? 😄 Perlu latihan olah nafas, senyum tiga senti (simetris yaa 😊), keterampilan menunggu, memberi clue. Apa lagi coba? 😀 Oh iya, Cara ngeles yang baik dan benar jika ada pertanyaan anak yang kodenya belum tersimpan di otak kita. 😆 Nah perlu strategi juga untuk sama-sama menjari jawaban atas pertanyaan itu yaa, jangan lepas tanggung jawab. 😅 Dengan bekerja cerdas dan ikhlas, InsyaAllah Kita akan dikenang sebagai guru yang baik hati dan menyenangkan! 😍

Selamat Hari Guru!
Kita semua hebat 🌹

Special thanks to my parents, my husband, my kids, my family, my best friends, my partners, and all teachers I have.
Barakallahu fiikum 💐


Depok, 25 November 2018

Jumat, 09 November 2018

Ambi, Ayo Makan!

“Ayo kita berlomba mencari rumput segar!” seru Ambi kepada teman-temannya.
Ambi adalah seekor kambing etawa betina yang sangat lincah. Dia tinggal di sebuah ladang peternakan yang luas. Dia selalu bersemangat untuk mencari rumput segar di peternakan itu setiap pagi. Dia selalu berlari kesana-kemari. Dia makan rumput dengan sangat lahap. Dia ingin memberikan susu yang banyak kepada Pak Tani yang baik hati.
“Tuh disana!” Ambi menemukan  semak rumput segar. Teman-temannya pun mengikutinya.
“Nyam..nyam..nyam! Wah sedap sekalli rumput ini!” kata Ambi.
“Hei, lihat disana ada rumput lagi!” Dia berlari menuju kumpulan rumput yang lain, sementara teman-temannya masih asyik dan santai melahap rumput yang pertama ditemukan.
“Aku mau yang itu!” Dia pun berlari menuju rumput itu. “Nyam..nyam..” dia makan dengan cepat sambil melihat ke sekeliling. “Itu ada lagi! Sepertinya rumput itu lebih enak!” Dia pun berlari menuju rumput yang lain.
“Ah yang sebelah sana mungkin lebih enak!” dia berlari lagi menuju rumput yang dekat pohon mangga.
Tiba-tiba..”Aaaawww!!!” Ambi berteriak kesakitan. Rupanya dia menggigit sesuatu yang tajam di rumput. Dia menangis. Teman-temannya segera menghampiri. Ayah ibunya pun datang.
“Kamu kenapa, Ambi?” Tanya sang ayah.
“Huhuhuhu.. ada sesuatu yang tajam di mulutku,” jawab Ambi.
Lalu ibu Ambi memeriksa mulut anaknya itu.
“Oh, sepertinya itu duri. Ada duri menempel di gusi atas,” kata ibu.
“Sakit sekalli, bu!” Ambi mengerang.
“Sebaiknya kita minta tolong Pak Tani, yuk!” ajak sang ibu.
Priiiiiit! terdengar peluit Pak Tani memanggil para kambing.
Semua kambing beriringan menuju kandang.
Satu per satu kambing pun digiring Pak Tani masuk ke kandang-kandang mereka.
Satu kandang berisi tiga kambing.
Ambi tinggal bersama ayah ibunya dalam satu kandang.
Mereka siap diperah setelah makan.
Ambi tak tahan dengan duri yang menancap di gusinya itu.
Dia terus mengembik. “embeek… embeeeek… embeeek”
Ayah ibunya merasa kasihan kepadanya.
“Semoga Pak Tani segera menghampiri kita ya, Nak!” ibu kambing berharap dengan khawatir.
Sementara itu Ambi terus mengembik dan melompat-lompat di atas kandang. Dia berusaha memanggil Pak Tani.
Kemudian Pak Tani pun menghampiri kandang Ambi. Dia merasa heran dengan sikap Ambi yang terlalu lincah. Pak Tani menggiring Ambi dan ibunya ke kandang pemerahan susu. Ambi masih terus mengembik dan tak mau diam.
“Ada apa denganmu, Ambi? Apa kamu sakit?” Tanya Pak Tani sambil memeriksa tubuh Ambi.
“Embeeek.. embeeeek.. embeeeek..” Ambi terus mengembek sambil sesekali membuka mulutnya.
“Ada apa di mulutmu?” Pak Tani memeriksa mulut Ambi.
“Ooh, rupanya duri ini yang membuatmu  sangat kesakitan, ya” kata Pak Tani sambil mencabut duri kecil yang menancap di gusi bagian atas Ambi.
“Nah, sudah. Tenanglah. Durinya sudah kuambil. Sekarang kau tak akan kesakitan lagi.” Pak Tani mengelus-ngelus badan Ambi yang besar itu.
“Sekarang aku akan memerah susumu. Tenang ya, kambing yang baik!” kata Pak Tani kepada Ambi yang sudah terlihat lega.
“Terima kasih, Pak Tani.” Kata Ambi di dalam hati.
“Waaah banyak sekali susumu, Ambi! Kau pasti makan dengan lahap lagi ya. Hebat, Ambi! Terima kasih, yaa.” Pak Tani tersenyum bahagia kepada Ambi.
Setelah ibu Ambi selesai diperah, mereka digiring Pak Tani kembali ke kandangnya.
“Ayah, durinya sudah dicabut oleh Pak Tani” seru ibu Ambi dengan bahagia.
“Oh, syukurlah. Sekarang kau tidak kesakitan lagi, Ambi.” Kata sang ayah.
“Iya, ayah.. aku sekarang mau tidur dulu. Aku capek.” Kata Ambi.
Dia pun tertidur dengan cepat.
Sore hari, Pak Tani meniup peluit lagi. Tanda waktu makan telah tiba.
Semua kambing dilepaskan untuk mencari makan sendiri.
Tapi, Ambi terlihat tidak semangat.
“Ambi, ayo kita mencari rumput.” Ajak sang Ayah.
“Aku tidak mau ayah. Aku mau disini saja.” Ambi ingin diam di kandangnya.
“Kenapa?” Tanya sang ibu.
“Aku tidak mau makan, ibu.” Jawab Ambi.
“Baiklah, mungkin kamu masih capek ya. Kita bawakan saja rumputnya kesini, Bu” usul sang ayah.
Ayah dan ibu Ambi pun segera mencari rumput segar. Setelah mereka selesai makan, mereka membawakan beberapa rumput untuk dimakan Ambi di kandang.
“Ini, nak, makanlah. Rumputnya enak sekali.” Sang ibu menyodorkan rumput segar kepada Ambi.
“Tidak, bu, aku tidak mau. Aku tidak mau makan.” Ambi menolak dan menutup wajahnya dengan telinganya yang lebar.
“Kenapa, Ambi?” Tanya sang ayah.
“Aku capek, yah, ingin tidur saja” jawab Ambi.
“Baiklah.” Kata sang ayah.
Malam pun tiba. Lalu mereka bertiga tidur berdekatan.
Hujan turun dengan lebat. Udara jadi semakin dingin. Ayah ibu memeluk Ambi.”Semoga kamu selalu sehat, nak” bisik sang ibu.
Besoknya, sinar matahari pagi menembus lubang di kandang Ambi.
Ambi membuka matanya. Tapi badannya masih malas untuk bangun.
“Priiiiiit! Priiit!” bunyi peluit Pak Tani menggerakan para kambing etawa itu ke rerumputan. Semuanya bersemangat. Tapi tidak dengan Ambi. Dia tidak mau keluar dari kandang. Dia tidak mau mencari rumput segar.
“Ayo, Ambi kita cari rumput segar!” ajak ayah.
“Tidak mau, ayah. Aku tidak mau makan” jawab Ambi.
“Kemarin sore kamu tidak makan, masa sekarang tidak makan lagi.” Sang ibu merasa cemas.
“Tidak, bu. Biarkan aku di kandang saja”
Lalu, ayah ibunya pun keluar kandang dan makan rumput segar seperti biasa.
Mereka juga membawa pulang beberapa rumput untuk dimakan Ambi, tapi Ambi menolaknya lagi.
Pak Tani datang dan membawa Ambi dan ibunya untuk diperah.
Pak Tani heran saat memerah ambing Ambi beberapa kali tapi tidak ada susu yang keluar.
“Loh, ada apa denganmu, Ambi? Kemarin susumu sangat banyak. Tapi sekarang hampir tidak ada susu yang keluar.” Kata Pak Tani.
“Badanmu juga tampak lemas. Apa kamu sakit?” Pak Tani memeriksa badan dan mulut Ambi dengan teliti. Tak ada yang salah. Pak Tani merasa khawatir.
“Aku akan memanggil dokter untukmu nanti. Sekarang lebih baik kamu istirahat saja di kandang, ya” Pak Tani menuntun Ambi kembali ke kandangnya.
“Hah, dokter? Aku akan diperiksa dokter?” Ambi merasa takut. Dia mengingat terakhir kali dokter datang menyuntikkan  sesuatu ke badannya.
“Ibu, aku tak mau disuntik lagi. Aku tidak sakit kok, Bu” kata Ambi.
“Tapi kamu sejak kemarin tidak makan makanya hari ini susumu tidak keluar. Mungkin kamu memang sakit, Nak” kata sang ibu.
“Tidak, bu. Aku hanya takut makan. Aku takut ada duri lagi di rumput yang aku makan. Rasanya sakit sekali.” Ambi mengaku.
“Oh, jadi itu alasannya kamu malas makan?” kata sang ayah.
“Coba kita kembali ke tempat kamu memakan rumput berduri itu.” Ajak Ayah
“Disini, yah, aku makan rumput itu disini.” Ambi menunjukkan rerumputan yang ada di bawah pohon mangga. “Ini rumput yang biasa kita makan kan? Rumput ini tak berduri.”
Lalu mereka memeriksa rumput yang ada disitu.
“Naaah, ini dia tanaman yang mungkin termakan olehmu. “ seru Ayah.
“Ini putri malu, biasa tumbuh dekat rumput yang kita makan. Batangnya berduri." kata Ayah.

"Ooh..ini ya tanaman putri malu. Dia punya bunga yang cantik ya." sahut Ambi.
"Iya, daunnya yang kecil-kecil itu akan menutup jika disentuh atau ditiup. Daunnya jadi terlihat layu. Saat dia menutup, batang berdurinya akan mudah terlihat. Kenapa kamu sampai bisa tertusuk duri itu?  Selama ini tak ada yang pernah mengalaminya.” Kata Ayah.
“hemm.. mungkin karena aku makan terburu-buru dan selalu melihat sekeliling. Aku selalu tak sabar untuk mencoba semua rumput yang ada disini. Mataku kurang memperhatikan apa yang aku makan.” Ambi menyadari kesalahannya.
“Jadi, sekarang kamu mau makan?” Tanya ibu.
“Iya bu, aku mau makan lagi. Aku ingin memberi susu yang banyak kepada Pak Tani.” Seru Ambi bersemangat.
Dia lalu melahap rumput dengan lahap dan pelan.
Dia makan sambil menikmati harumnya rumput yang segar itu.
“Semoga besok susuku banyak.” Ambi berharap dengan bahagia. 

Minggu, 28 Oktober 2018

Ngaji Lagi..Ngaji Lagi..

"FITRIIIII!! NAIK!! 
Aku dan teman-teman pun belingsatan naik dari kolam ikan itu saat mendengar teriakan Mamah di pinggir jalan yang tak jauh dari kolam tempat kami berenang tadi.
Dengan perasaan takut kuhampiri Mamah yang sudah bersiap ngomel. "Waktunya ngaji masih aja main! bla..bla..bla..." 
Aku pun segera membersihkan diri, sholat dzuhur dan pergi ke madrasah untuk mengaji.

.......................................................................................................

Di lain kesempatan, terdengar pengumuman dari speaker pesantren dekat rumah.
"Yang belum datang Neng Pipit, Nyai Yuli,... Harap segera datang. Pengajian akan dimulai."
Terdengar namaku dipanggil (Neng Pipit), tapi aku berusaha menyembunyikan rasa malu.
"Aaah kali ini aja libur ngaji gak papa", pikirku sambil pura-pura tidur di kamar.
Tapi, "Teh, tuh dah dipanggil!", kata Mamah.
Aku pura-pura gak denger.
"Pak, tuh si teteh gak mau ngaji!" 
Si Mamah emang kaya peramal hihi.. tahu banget kalo anaknya pura-pura, dan tahu banget anaknya akan bangkit jika Bapak sudah dipanggil. 😁
Maka, sang anak pun bangkit dan berangkat ngaji.

.......................................................................................................

"Mah, hujan", kataku meminta dispensasi mengaji magrib di rumah ustadz yang lokasinya hanya terpisah 4 rumah dari rumah kami.
"Ada payung" respon Mamah tanda menolak harapanku.
Akupun berangkat sambil manyun.

......................................................................................................

Ngaji siang di madrasah sepulang sekolah, ngaji sore di pesantren setelah sholat ashar, dan ngaji di rumah ustadz setelah maghrib. Jadwalku sewaktu kecil, usia SD, memang penuh sama ngaji, Liburnya hari Jum'at saja. Dan orang tuaku, Bapak dan Mamah sangat ketat soal urusan sholat dan ngaji. Kalau aku belum pulang, diuber-uber tuh, dicari sampe dapat, dan disuruh ngaji. 

Bahkan di liburan panjang sekolah pun, agenda utama liburannya adalah mondok di pesantren selama 2 pekan. Pesantrennya berbeda setiap liburan.



Pernah suatu waktu, saat itu mau naik kelas 3 SD. Aku dan kakak sepupuku yang cowok dikirim ke pesantren di kecamatan tetangga. Dulu rasanya jauh banget karena belum ada angkot seperti sekarang. Setiap maghrib tiba, perasaanku sedih sekali, rasa ingin pulang selalu menggelayuti. Nangis aja bisanya, sambil meraung minta pulang. Tiba-tiba muncul ide untuk minta dianterin ojek. Aku maksa minta pulang sama bibi pengawas dan minta dianterin sama ojek aja. Nah, pulanglah aku dianter Mang Ojek.

Sesampainya di rumah, aku malah dimarahin Bapa. Dan besok paginya, aku dianterin lagi ke pesantren tak cuma diiringi Mamah dan Bapa, tapi juga Kakek, Nenek, dan Uwa. 😜
Alhasih, akupun berusaha bersabar untuk mengikuti program mondok sampe selesai.

......................................................................................

Meski seketat itu aturan Bapak dan Mamah soal mengaji, anehnya tak pernah membuatku trauma atau jadi bosan mengaji. Malah, kupikir, kebiasaan yang dulu dipaksakan itu menjadi darah daging dalam jiwaku, cieee...beneran loh! Sampai dewasa, rasanya ada yang hampa kalo belum punya jadwal mengaji (ta'lim). Semoga menjadi amal jariyah buat Mamah (almh) dan Bapak. 😊


Sumber Gambar:
https://dimaspramudia.web.id/makna-adab-bagi-anak-usia-dini/gambar-anak-mengaji-kartun/


Depok, 28 Oktober 2018
Fitri Purbasari

Minggu, 21 Oktober 2018

Then, I Love Storytelling

It was almost 11 years ago. Saat itu kira-kira masa kuliah tingkat 3. Saya dapat mata kuliah English For Young Learners yang disajikan oleh dosen enerjik yang baru pulang dari kuliah di luar negeri. Masih sangat segar ilmunya, karena beliau khusus kuliah tentang itu disana.

Oia, saya dulu kuliah jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan bercita-cita ingin jadi guru di SMP, SMA, dan sederajat, dan jadi dosen. Pokoknya tidak mau ngajar di level SD apalagi TK. Kupikir berurusan dengan anak kecil pasti akan menguras energi. Gak mau ribet, gitu mindsetku waktu itu.

Tapi ternyata takdir berkata lain, cieeee.. hihihi.
Ibu dosenku yang satu itu suangat awesome, powerful, and inspiring!
Setiap kali ngajar, beliau selalu mampu membuat suasana ruang kelas mahasiswa seantusias anak TK. Beliau kerap kali membawa buku-buku cerita amazing, keren, unik, meski kontennya sederhana,
Beliau pun membawakan cerita di buku-buku itu dengan sangat mengagumkan.
Saya terpesona sekaliiiiii!!

Berikut salah dua buku yang membuat saya terpana.


Buku The Very Hungry Caterpillar karya Eric Carle ini bercerita tentang seekor ulat kecil yang kelaparan. lalu dia makan setiap hari. Nah disini kita bisa mengajak anak belajar tentang hari dan jenis makanan. Bukunya seru dan colorful, di setiap makanan ada lubang untuk si ulat masuk, dan kita bisa menggunakan jari kita sebagai si ulat. Language focusnya ada, kata yang sama diulang berkali-kali. Lalu setelah seminggu, si ulat kecil sudah berubah menjadi si ulat besar yang gendut. Disini anak-anak belajar kata sifat. Kalimat-kalimatnya simple namun penuh pelajaran. Mantap!

Yang selanjutnya adalah buku ini.



Where's Spot by Eric Hill membuatku tring tring ting pula. It's a lift the flap book. Seekor mama anjing mencari anaknya yang bernama Spot. Dia mencari ke seluruh penjuru rumah. Di setiap sudut yang dicari, dia malah menemukan teman-teman binatangnya. Anak-anak bisa belajar things in the house, animals, and preposition of place. Keseruannya ditambah dengan jenis buku buka tutup gambarnya. Jadi anak bisa merasa terlibat dalam pencarian Spot.

Tanpa disadari, energi beliau menyeretku untuk mengakui bahwa "Mengajar young learners alias anak kecil itu menyenangkan" dan saya merasa saya bisa membuat buku-buku cerita seperti itu.
Saya harus mengambil ladang kebaikan yang besar dengan mengajarkan bahasa Inggris yang benar pada anak-anak kecil dengan cara yang menyenangkan. Semoga kelak anak didikku akan mencintai bahasa Inggris. Dan itu modal yang besar bagi mereka untuk mempelajari matpel yang satu ini di tingkat pendidikan selanjutnya.
WOW saya berubah!!

Dalam mata kuliah itu, kami diberi tugas untuk membuat modul belajar EYL dari level TK hingga SD kelas 3. Dan saya kebagian dalam grup yang membuat modul untuk TK B. Berbinar!
Hingga saat mini penelitian sampai skripsi, saya mantap ambil judul tentang metode Storytelling dan pengaruhnya untuk penguasaan kosakata Bahasa Inggris pada anak SD.

Minat itu berlanjut hingga sekarang menjadi ibu.
Membacakan buku cerita pada anak sejak dalam kandungan telah saya rasakan sangat berdampak besar. Tentu yang diutamakan adalah buku tentang Allah, keteladanan Rasulullah dan para nabi.
Selain itu, alhamdulillah saya pun bisa membuat cerita dadakan sesuai dengan nilai yang dibutuhkan anak saat itu, hehehe. Sayangnya, saya jarang segera menuliskannya.
Meski belum menelurkan karya berupa buku, saya terus berusaha menularkan manfaat storytelling dan mengkampanyekan buku cerita yang sarat makna. Pokok'e Storytelling is Amazing! 😊


Gambar diambil dari:
https://whattheredheadsaid.com/redhead-roundup-books-august-2016/
https://babydivine.co.nz/products/the-very-hungry-caterpillar-big-broad-book

Depok, 21 Oktober 2018

Kamis, 18 Oktober 2018

Dedek Seneng Umi Sama Dedek

"Dedek seneng ajak main Umi."
Mungkin maksudnya Dedek senang Umi ajak main Dedek. 😂
"Dedek seneng (ber)sama Umi"

Itulah beberapa kalimat yang Fatimah (3y) saat saya ngelonin dia tadi. Dengan ekspresi sok imut merem-merem tangan di pipi tembemnya. 😁😘

MasyaAllah Umi kaget plus haru dengernya, dek.

Tadi seharian dia ikut saya ke seminar edukasi di Kecamatan Cilodong.

Ini fotonya saat permintaannya untuk main game belanja ditolak. Digantinya permintaannya itu dengan motoin kaki.
"Dedek mau foto kaki aja kok mi" 😁

Saya puji-puji dia karena telah bersikap baik dengan anteng di kids corner bersama anak-anak yang lain.
Sesampainya di rumah pun saya menyampaikan pujian itu dihadapan kakaknya.
Lalu saya bacakan buku hadiah dari seminar itu.
"Ini buku hadiah loh kak, karena Umi maju bercerita, Dan Dedek bersikap baik di tempat main." Gitu saya memberi motivasi untuk mereka.
Keduanya senang sekali  jika dikasih storytelling.

Rupanya pujian-pujian dan pengelolaan emosi saya yang baik hari ini, membuat hati Dedek Fatimah berbunga. 🌼
Hemmh.. alhamdulillah..

"Celamat mayam, Umi. Dedek cayang Umi. Dedek cayang Kakak. Dedek canyang abi" katanya sesaat sebelum terlelap.
"Selamat  malam, Dedek. Umi sayang dedek. Besok kita main lagi yaa" jawabku. 😘

Depok, 18 Oktober 2018

Minggu, 14 Oktober 2018

Manten Pedes

Ingat pas jadi manten mak? bak Ratu sehari. iya khaan?? 👰😃
Eh gak cuma sehari deng..beberapa hari ya.. hehe.. bisa sejak dari siraman (kalo pake) sampai beberapa hari setelah ngunduh mantu, alias resepsi di rumah mertua. hehe.. 

Selalu dimanja dan diutamakan ya, mak.. apalagi soal makanan.
Disuguhi limpahan makanan.
Lalu kita, sang mantu, masih sangat malu-malu berada di rumah mertua.
Menerima apapun yang disuguhkan dan tetap berwajah sumringah. hehe.. 

Meski makanan yang disuguhkan diluar kebiasaannya. hihii..
Aiiih, pengalaman nih ye?? 😆 hihi.. iye, mak. 

Ini pengalaman pertamaku makan masakan-masakan pedasnya mertua yang sangat endes. 😋
Aku yang tak terbiasa makan pedas harus melahap masakan pedas setiap hari waktu tinggal di rumah mertua setelah acara ngunduh mantu. Masakannya super enak, mak, tapi pedesnyaa kagak nahan. 😆 

Aku yang makan cabe segigit aja, untuk ukuran cabe yang tidak terasa pedas, efeknya bisa (maaf) langsung bolak balik ke toilet beberapa kali dalam sehari. Nah ini, masakan mamah mertua ini pedesnya poll.. ada cabe ijo nya, ada cabe gendotnya, ah pokoknya setiap masakannya pake cabe hihi.. Kebayang dong efek yang terjadi padaku waktu itu? 
yes, mules-mules setiap hari. Sampe minta dibeliin obat. Dan aku tak berani bilang bahwa aku tak bisa makan pedas. huhuuu..


Tapi, suamiku ternyata ngeuh. Dia tanya, dan baru disitu aku bisa bilang, "Masakan mamah enak banget, tapi perutku gak kuat, karena mungkin tak dibiasain sejak kecil. Masakan mamahku cenderung manis sih." 

Dan mamah mertuaku yang perhatian pun besoknya selalu membuatkan sayur sop/sayur bening dan ayam goreng disamping masakan pedes. 

Tapi, mak, sejak saat itu pula, aku suka makanan pedes. Masakan mamah mertuaku terlalu endes untuk dilewatkan. 😍😋 Meski kemudian harus selalu siap larutan penyegar sampe obat diare. hihii


------------
Fitri Purbasari

Selasa, 02 Oktober 2018

Ngikutin Umi

Umi: Ka, Umi udah nulis cerita loh. Mau tahu. Nih umi bacain ya..

Umi buka laptop dan baca cerita pendek Muharram Pertamaku yang dibuat dalam rangka One Week One Writing Kami Nulis.
Kakak nyimak sambil main sama Dedek.
Umi: bagus kan kak? Kakak juga nulis dong.

Lalu umi pun  masuk kamar dan Membaca buku FBE di atas kasur.
Tak lama si Kakak menghampiri dengan menenteng buku tulis dan pensil kesayangannya.

Kakak: Mi, Kakak mau nulis cerita juga. Umi bantuin yaah.
Umi: ok.. (alhamdulillah bisik hati 😍)

Kakak pun menulis aneprok di lantai. Nulis sekalimat, dibaca, nulis lagi, baca, minta koreksi. Umi ingetin Kakak soal nasehat kak Fayanna yg ngisi workshop menulis 2 pekan lalu bahwa nulis itu bisa berdasarkan pengalaman.

Umi: misal kan itu Kakak bikin tentang puasa, tulis aja cerita pengalaman Kakak saat puasa, nah tinggal diganti tokoh sama tempatnya.
Kakak: Oia, mi. Yang waktu Kakak muntah itu yaa pas puasa Hari pertama.
Umi: naah, iya bener! Sip.

Kakak pun melanjutkan menulis cerpennya hingga selesai.

Umi: Sok nanti habis ngaji magrib, Ketik di laptop.

Kakak pun bersemangat Mandi, sholat lalu ngaji dan murojaah.
Kakak: mi, Kakak udah siap!
Umi: Okeh. 😊


Well, our children are good imitators!
Maka, kebaikan dan kebiasaan apapun yang ingin kita tumbuhkan di diri mereka, hendaknya dimulai dengan menumbuhkannya di diri kita sendiri.

Mau anak cinta Al Quran, maka orang tuanya harus dia lihat cinta Al Quran.
Mau anak rajin sholat, orang tua harus nampak antusias menyambut waktu sholat dan bersegera melakukannya.
Mau anak cinta baca, emak bapak harus hobi Membaca.
Mau anak semangat mengasah kemampuan menulisnya, maka emak/bapaknya pun harus rajin menulis terlebih dahulu.
Orang tua adalah teladan. 😉

#RafifaAishaMahera
#penuliscilik
#nuliscerpen
#fitrahbakat
#kakak6y9m
#anakpeniruulung
#likemotherlikedaughter

Tambah Teman WA

  Menambah teman menambah rezeki.. Bismillah. Jalin silaturahim, tak pernah rugi. Insyaallah.