Kamis, 25 April 2019
Jurnal Fasilitator B5: Komunikasi Produktif
Menjalani hari-hari sebagai fasilitator Bunda Sayang batch #5 sungguh pengalaman yang amat berharga. Di awali dengan materi level 1 yaitu Komunikasi Produktif, diri ini diliputi rasa syukur. Alhamdulillah bisa kembali me-recharge ilmu yang amazing ini bersama para perempuan keren di kelas Depok 1. Makin merasa kaya karena bisa membaca beragam pengalaman mereka dalam mempraktekkan ilmu KomPro bersama suami dan atau anak-anak mereka yang beragam usia.
Di level ini, qadarullah, tidak sedikit dari member kelas termasuk saya diuji sakit yang ternyata bergantian juga dengan anggota keluarga kami masing-masing. Selain itu, ada juga yang sedang hamil muda dan perlu mengurangi kegiatannya termasuk interaksinya dengan gadget karena kondisi yang lemah. Tapi alhamdulillah pelaksanaan tantangan dan setorannya tetap lancar. Teman-teman saling mendukung dan menyemangati satu sama lain, terutama di peer group nya masing-masing. Special thanks to peer group coordinators yang telah menjalankan tugas dan fungsinya dengan sangat baik. Dan tentu big thanks juga untuk koordinator bulanan 'perdana' yang sangat cekatan dan telaten, mak Hesti Paramita. Di kehamilannya yang sedang menunggu hari persalinan, mak korlan #1 sangat gercep alias bekerja dengan cepat dan efektif dalam mengurus administrasi dan memandu kegiatan. Pun saat hari lahiran tiba. Kami sampai terkejut saat dikabari beliau sudah melahirkan, padahal kemarinnya kami sedang menjalankan diskusi review. Hari selanjutnya pun beliau segera menuntaskan resume diskusi review, yang merupakan tugas terakhirnya sebagai korlan level #1. Masyaallah..tabarakallah. 💖
Semua perangkat kelas, ketua dan sekretaris beserta member perangkat kelas yang lain sangat kooperatif dan terasa sekali semangat berlomba dalam kebaikan. Saling back-up saat yang lain berhalangan atau menemui kendala dalam melakukan tugasnya. TOP deh!
Saya pun sebagai fasilitator, bersyukur memiliki guardian fasil yang sangat hebat, yaitu mak Supriyanti Budiani alias mak Noni. Selalu siap back-up dengan segala ilmu dan pengalamannya yang segudang. Big Hug, sist! 😍
Alhamdulillah berkat sinergi yang super keren ini, di level ini di kelas Depok 1 ada 40 orang (dari 42 mahasiswa) yang mendapat badge dasar. Semoga di level selanjutnya bisa semuanya dapat yaa.
Selain perkuliahan dan membahas tantangan, ada sesi Jum'at Hangat yang menyemarakkan suasana di kelas. Sesi ini untuk saling berkenalan lebih dekat antar member kelas Bunda Sayang. Di level ini ada 2 sesi, diisi oleh 2 orang. Di Jum'at pertama, kami berkenalan dengan mak Ameylia N. Siregar. Beliau emak muda keren dengan 4 anak. Hobinya seputar keuangan syariah dan sekarang bekerja sampingan sebagai sharia financial advisor. Di Jum'at kedua, sesi Jum'at hangat diisi oleh mak ASN kece yang sedang merantau mendampingi suami belajar di Australia. Beliau juga seorang penulis yang produktif di bidang parenting. Beliau adalah mak Athiah Listyowati.
Secara umum alhamdulillah perkuliahan di level #1 berjalan lancar. Semua mahasiswi sangat merasakan efek dari Tantangan 10 hari Komunikasi Produktif. Slow but sure semuanya merubah pola komunikasi menjadi lebih baik. Saya pun demikian, lebih memaknai lagi komunikasi harian yang sudah jarang dicatat hehe. Disinilah makna "memfasil itu mengikat ilmu". Yes, kita sama-sama belajar (lagi).
Namun saya sangat menyadari bahwa banyak kekurangan dalam diri saya dalam melayani dan menjawab berbagai pertanyaan dan curhatan teman-teman mahasiswi. Oleh karena itu, saya selalu memohon kekuatan dan kemudahan kepada Allah Yang Maha Tahu segala sesuatu termasuk untuk mengemukakan solusi terbaik yang dtanyakan kepada saya. Saya bertekad untuk selalu mendawamkan ibadah tahajud agar Allah SWT selalu membimbing saya mengemban tugas ini, agar hati dan langkah selalu terpelihara dalam ridhoNya. Agar setiap kata-kata bisa saya sampaikan dengan hati yang tulus dan membekas di hati-hati mereka sehingga menjadi amal jariyah yang sangat bermanfaat untukku, untuk orang tuaku, dan untuk guru-guruku. Selain itu, menjaga kesehatan diri dan keluarga tentu harus menjadi prioritas agar semua amanah bisa dijalankan dengan optimal. Manajemen waktu tetap terus dilakukan dengan baik.
Semoga perjalanan sebagai fasilitator ini membuahkan ridho Allah atas keberkahan, keselamatan dan kebahagiaan hidup kami semua. Amiin yaa Mujiib. 💖
Depok, April 2019
Fitri Purbasari
#JurnalFasilitator
#Bunsay5
#KomunikasiProduktif
#IbuProfesional
Rabu, 27 Februari 2019
Day #6 Menulis Bebas
What is Your Hobby?
Hello, I'm Aisha. My hobby is drawing. I do it every afternoon.
This is my mother. Her hobby is reading. She loves reading big books.
That is my father. His hobby is bicycling. He does it every Sunday.
That is my sister. Her hobby is gardening. Look! Her flowers are beautiful.
That is my brother. His hobby is swimming. He goes swimming with his friends every Tuesday.
That is my grandma. Cooking is her hobby. She is a super chef in my family.
That is my grandpa. Storytelling is his hobby. We like to listen to his stories every saturday night.
What about you?
What is your hobby?
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Mini Quiz
Match the person with his/her hobby!
Mother . Father. Brother. Sister . Grandpa . Grandma
Bicycling . Cooking. Gardening .reading . Swimming. Storytelling
By Fitri Purbasari
27/02/2019
Rabu, 06 Februari 2019
Fitri Purbasari_NHW1_UpgradingFasilB5
Motivasi & Komitmen
Menjadi Fasilitator Bunda Sayang Batch #5
Menjadi Fasilitator Bunda Sayang Batch #5
Alhamdulillah, saya bersyukur bisa mendapat kursi di kelas Upgrading Facilitator Batch #5 Institut Ibu Profesional awal tahun ini. Materi pertama adalah Achievement Motivation Training. Saya diingatkan kembali tentang pentingnya Motivasi alias Niat pada permulaan setiap pergerakan. Dan setelah itu harus ada Komitmen agar pergerakan itu terus berjalan on the track.
Hmmh, dengan tugas pada materi #1 ini, saya berusaha menegaskan dan akan mengikat Motivasi saya saat memutuskan melamar menjadi fasilitator Bunda Sayang batch #5. Motivasi saya adalah hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim tentang amal yang tak akan terputus meskipun nyawa sudah berpisah dari jasad.
Yup, saya sangat berharap ilmu-ilmu bermanfaat yang disebar melalui tangan saya sebagai fasilitator bisa menjadi amal-amal ajaib yang pahalanya akan terus mengalir melintasi dimensi. Pahala yang akan terus saya nikmati dan saya bawa hingga menemui Sang Pencipta. Aamiin yaa Rabbal'alamiin.
Selain itu, ada satu lagi sabda Rasulullah SAW yang memotivasi diri ini dalam mengambil pekerjaan yang sifatnya memfasilitasi, khususnya dalam bidang edukasi. Yaitu "Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. Hadits itu diriwayatkan oleh Muslim.
Bisa kita bayangkan pahala yang multilevel, kan. MasyaAllah.. sungguh investasi yang menguntungkan.
Yang Tak Kalah pentingnya, alasan saya ingin menjadi fasilitator Bunda Sayang adalah dalam rangka meremedial diri sendiri dengan ilmu dan prakteknya. Saya percaya bahwa dengan mengajar Kita pasti Akan selalu belajar.
Nah, untuk mendapatkan segala potensi kebaikan jangka panjang sesuai yang diharapkan, tentunya saya harus membangun komitmen dan memelihara semangat memperjuangkannya.
Berikut beberapa komitmen yang harus saya pegang agar amanah sebagai fasilitator dapat dijalankan dengan baik.
Yang Tak Kalah pentingnya, alasan saya ingin menjadi fasilitator Bunda Sayang adalah dalam rangka meremedial diri sendiri dengan ilmu dan prakteknya. Saya percaya bahwa dengan mengajar Kita pasti Akan selalu belajar.
Nah, untuk mendapatkan segala potensi kebaikan jangka panjang sesuai yang diharapkan, tentunya saya harus membangun komitmen dan memelihara semangat memperjuangkannya.
Berikut beberapa komitmen yang harus saya pegang agar amanah sebagai fasilitator dapat dijalankan dengan baik.
- Disiplin waktu dengan mentaati daily schedule yang sudah dibuat dengan penuh semangat.
- Disiplin tilawah 1 juz di awal Hari.
- Mengutamakan ridho suami.
- Tidak menunda-nunda pekerjaan, baik pekerjaan domestik maupun publik sebagai fasilitator IIP & amanah lainnya. Mencicil setiap tugas dengan serius.
- Selalu berkonsultasi dengan Tim fasilitator jika Ada permasalahan seputar perkuliahan, peserta perkuliahan, atau Ada masalah Tak terduga.
- Selalu memperbaharui niat agar tetap lurus dengan menyimak kajian ulama ataupun Motivasi dari founder IIP.
Semoga Allah menolong saya dalam memelihara niat dan menjalankan amanah dengan baik.
Salam Semangat!
Fitri Purbasari - Depok
Sumber Gambar:
www.google.com
Sabtu, 24 November 2018
Ibu Guru
Ibu Guru
Anda ibu guru?
Tentu saja! Seorang ibu adalah guru utama dan pertama bagi anak-anaknya. Setuju kan, mom?!
Tapi, seringkali kita terjebak pada mindset bahwa menjadi guru bagi anak itu adalah bertugas dengan mengulang pelajaran sekolahnya. Apalagi saat mau musim ujian seperti sekarang. Kerasa banget kan ya jadi gurunya. Kaya tinggal pake seragam aja rasanya.. apalagi yang pernah mengajar di sekolah formal. hhihi.
Tidak Ada yang salah dengan itu, ya mom. Tapi kita semestinya melakukannya dengan lebih mendalam dan memaknai setiap isi silabus/poin materi yang dipelajari. Ada banyak nilai yang bisa berguna bagi anak dan fakta serta ilmu yang bisa membuat anak berbinar dan bersinar matanya. Cieee.. 😁 Selebihnya menjadi guru bagi anak itu sangatlah luas dimensinya. Ibu adalah guru dalam seluruh lini kehidupan anak. Guru mengajarkan tauhid dan meneladankan segala kebaikan. Semua yang dilihat, didengar, dan dirasa bersama bisa menjadi bahan ajar untuk mengenalkan Sang Pencipta dan ilmu-ilmu lainnya. Seorang ibu adalah guru sepanjang masa.
Menjadi ibu perlu banyak ilmu, khususnya dalam menjalankan peran sebagai guru di waktu belajar anak. Yang Paling utama adalah ilmu penguasaan diri. Hihii yaa.. let's say pengendalian emosi ya. Bener gak? 😄 Perlu latihan olah nafas, senyum tiga senti (simetris yaa 😊), keterampilan menunggu, memberi clue. Apa lagi coba? 😀 Oh iya, Cara ngeles yang baik dan benar jika ada pertanyaan anak yang kodenya belum tersimpan di otak kita. 😆 Nah perlu strategi juga untuk sama-sama menjari jawaban atas pertanyaan itu yaa, jangan lepas tanggung jawab. 😅 Dengan bekerja cerdas dan ikhlas, InsyaAllah Kita akan dikenang sebagai guru yang baik hati dan menyenangkan! 😍
Selamat Hari Guru!
Kita semua hebat 🌹
Special thanks to my parents, my husband, my kids, my family, my best friends, my partners, and all teachers I have.
Barakallahu fiikum 💐
Depok, 25 November 2018
Anda ibu guru?
Tentu saja! Seorang ibu adalah guru utama dan pertama bagi anak-anaknya. Setuju kan, mom?!
Tapi, seringkali kita terjebak pada mindset bahwa menjadi guru bagi anak itu adalah bertugas dengan mengulang pelajaran sekolahnya. Apalagi saat mau musim ujian seperti sekarang. Kerasa banget kan ya jadi gurunya. Kaya tinggal pake seragam aja rasanya.. apalagi yang pernah mengajar di sekolah formal. hhihi.
Tidak Ada yang salah dengan itu, ya mom. Tapi kita semestinya melakukannya dengan lebih mendalam dan memaknai setiap isi silabus/poin materi yang dipelajari. Ada banyak nilai yang bisa berguna bagi anak dan fakta serta ilmu yang bisa membuat anak berbinar dan bersinar matanya. Cieee.. 😁 Selebihnya menjadi guru bagi anak itu sangatlah luas dimensinya. Ibu adalah guru dalam seluruh lini kehidupan anak. Guru mengajarkan tauhid dan meneladankan segala kebaikan. Semua yang dilihat, didengar, dan dirasa bersama bisa menjadi bahan ajar untuk mengenalkan Sang Pencipta dan ilmu-ilmu lainnya. Seorang ibu adalah guru sepanjang masa.
Menjadi ibu perlu banyak ilmu, khususnya dalam menjalankan peran sebagai guru di waktu belajar anak. Yang Paling utama adalah ilmu penguasaan diri. Hihii yaa.. let's say pengendalian emosi ya. Bener gak? 😄 Perlu latihan olah nafas, senyum tiga senti (simetris yaa 😊), keterampilan menunggu, memberi clue. Apa lagi coba? 😀 Oh iya, Cara ngeles yang baik dan benar jika ada pertanyaan anak yang kodenya belum tersimpan di otak kita. 😆 Nah perlu strategi juga untuk sama-sama menjari jawaban atas pertanyaan itu yaa, jangan lepas tanggung jawab. 😅 Dengan bekerja cerdas dan ikhlas, InsyaAllah Kita akan dikenang sebagai guru yang baik hati dan menyenangkan! 😍
Selamat Hari Guru!
Kita semua hebat 🌹
Special thanks to my parents, my husband, my kids, my family, my best friends, my partners, and all teachers I have.
Barakallahu fiikum 💐
Depok, 25 November 2018
Jumat, 09 November 2018
Ambi, Ayo Makan!
“Ayo
kita berlomba mencari rumput segar!” seru Ambi kepada teman-temannya.
Ambi
adalah seekor kambing etawa betina yang sangat lincah. Dia tinggal di sebuah ladang
peternakan yang luas. Dia selalu bersemangat untuk mencari rumput segar di
peternakan itu setiap pagi. Dia selalu berlari kesana-kemari. Dia makan rumput
dengan sangat lahap. Dia ingin memberikan susu yang banyak kepada Pak Tani yang
baik hati.
“Tuh
disana!” Ambi menemukan semak rumput
segar. Teman-temannya pun mengikutinya.
“Nyam..nyam..nyam!
Wah sedap sekalli rumput ini!” kata Ambi.
“Hei,
lihat disana ada rumput lagi!” Dia berlari menuju kumpulan rumput yang lain,
sementara teman-temannya masih asyik dan santai melahap rumput yang pertama
ditemukan.
“Aku
mau yang itu!” Dia pun berlari menuju rumput itu. “Nyam..nyam..” dia makan
dengan cepat sambil melihat ke sekeliling. “Itu ada lagi! Sepertinya rumput itu
lebih enak!” Dia pun berlari menuju rumput yang lain.
“Ah yang sebelah sana mungkin lebih enak!” dia berlari lagi menuju rumput yang dekat pohon mangga.
“Ah yang sebelah sana mungkin lebih enak!” dia berlari lagi menuju rumput yang dekat pohon mangga.
Tiba-tiba..”Aaaawww!!!”
Ambi berteriak kesakitan. Rupanya dia menggigit sesuatu yang tajam di rumput. Dia
menangis. Teman-temannya segera menghampiri. Ayah ibunya pun datang.
“Kamu kenapa, Ambi?” Tanya sang ayah.
“Kamu kenapa, Ambi?” Tanya sang ayah.
“Huhuhuhu..
ada sesuatu yang tajam di mulutku,” jawab Ambi.
Lalu ibu Ambi memeriksa mulut anaknya itu.
“Oh, sepertinya itu duri. Ada duri menempel di gusi atas,” kata ibu.
“Sakit sekalli, bu!” Ambi mengerang.
“Sebaiknya kita minta tolong Pak Tani, yuk!” ajak sang ibu.
Lalu ibu Ambi memeriksa mulut anaknya itu.
“Oh, sepertinya itu duri. Ada duri menempel di gusi atas,” kata ibu.
“Sakit sekalli, bu!” Ambi mengerang.
“Sebaiknya kita minta tolong Pak Tani, yuk!” ajak sang ibu.
Priiiiiit!
terdengar peluit Pak Tani memanggil para kambing.
Semua kambing beriringan menuju kandang.
Satu per satu kambing pun digiring Pak Tani masuk ke kandang-kandang mereka.
Satu kandang berisi tiga kambing.
Ambi tinggal bersama ayah ibunya dalam satu kandang.
Mereka siap diperah setelah makan.
Semua kambing beriringan menuju kandang.
Satu per satu kambing pun digiring Pak Tani masuk ke kandang-kandang mereka.
Satu kandang berisi tiga kambing.
Ambi tinggal bersama ayah ibunya dalam satu kandang.
Mereka siap diperah setelah makan.
Ambi
tak tahan dengan duri yang menancap di gusinya itu.
Dia terus mengembik. “embeek… embeeeek… embeeek”
Ayah ibunya merasa kasihan kepadanya.
“Semoga Pak Tani segera menghampiri kita ya, Nak!” ibu kambing berharap dengan khawatir.
Sementara itu Ambi terus mengembik dan melompat-lompat di atas kandang. Dia berusaha memanggil Pak Tani.
Dia terus mengembik. “embeek… embeeeek… embeeek”
Ayah ibunya merasa kasihan kepadanya.
“Semoga Pak Tani segera menghampiri kita ya, Nak!” ibu kambing berharap dengan khawatir.
Sementara itu Ambi terus mengembik dan melompat-lompat di atas kandang. Dia berusaha memanggil Pak Tani.
Kemudian
Pak Tani pun menghampiri kandang Ambi. Dia merasa heran dengan sikap Ambi yang
terlalu lincah. Pak Tani menggiring Ambi dan ibunya ke kandang pemerahan susu.
Ambi masih terus mengembik dan tak mau diam.
“Ada apa denganmu, Ambi? Apa kamu sakit?” Tanya Pak Tani sambil memeriksa tubuh Ambi.
“Embeeek.. embeeeek.. embeeeek..” Ambi terus mengembek sambil sesekali membuka mulutnya.
“Ada apa di mulutmu?” Pak Tani memeriksa mulut Ambi.
“Ooh, rupanya duri ini yang membuatmu sangat kesakitan, ya” kata Pak Tani sambil mencabut duri kecil yang menancap di gusi bagian atas Ambi.
“Nah, sudah. Tenanglah. Durinya sudah kuambil. Sekarang kau tak akan kesakitan lagi.” Pak Tani mengelus-ngelus badan Ambi yang besar itu.
“Sekarang aku akan memerah susumu. Tenang ya, kambing yang baik!” kata Pak Tani kepada Ambi yang sudah terlihat lega.
“Terima kasih, Pak Tani.” Kata Ambi di dalam hati.
“Waaah banyak sekali susumu, Ambi! Kau pasti makan dengan lahap lagi ya. Hebat, Ambi! Terima kasih, yaa.” Pak Tani tersenyum bahagia kepada Ambi.
“Ada apa denganmu, Ambi? Apa kamu sakit?” Tanya Pak Tani sambil memeriksa tubuh Ambi.
“Embeeek.. embeeeek.. embeeeek..” Ambi terus mengembek sambil sesekali membuka mulutnya.
“Ada apa di mulutmu?” Pak Tani memeriksa mulut Ambi.
“Ooh, rupanya duri ini yang membuatmu sangat kesakitan, ya” kata Pak Tani sambil mencabut duri kecil yang menancap di gusi bagian atas Ambi.
“Nah, sudah. Tenanglah. Durinya sudah kuambil. Sekarang kau tak akan kesakitan lagi.” Pak Tani mengelus-ngelus badan Ambi yang besar itu.
“Sekarang aku akan memerah susumu. Tenang ya, kambing yang baik!” kata Pak Tani kepada Ambi yang sudah terlihat lega.
“Terima kasih, Pak Tani.” Kata Ambi di dalam hati.
“Waaah banyak sekali susumu, Ambi! Kau pasti makan dengan lahap lagi ya. Hebat, Ambi! Terima kasih, yaa.” Pak Tani tersenyum bahagia kepada Ambi.
Setelah
ibu Ambi selesai diperah, mereka digiring Pak Tani kembali ke kandangnya.
“Ayah, durinya sudah dicabut oleh Pak Tani” seru ibu Ambi dengan bahagia.
“Oh, syukurlah. Sekarang kau tidak kesakitan lagi, Ambi.” Kata sang ayah.
“Iya, ayah.. aku sekarang mau tidur dulu. Aku capek.” Kata Ambi.
Dia pun tertidur dengan cepat.
“Ayah, durinya sudah dicabut oleh Pak Tani” seru ibu Ambi dengan bahagia.
“Oh, syukurlah. Sekarang kau tidak kesakitan lagi, Ambi.” Kata sang ayah.
“Iya, ayah.. aku sekarang mau tidur dulu. Aku capek.” Kata Ambi.
Dia pun tertidur dengan cepat.
Sore
hari, Pak Tani meniup peluit lagi. Tanda waktu makan telah tiba.
Semua kambing dilepaskan untuk mencari makan sendiri.
Tapi, Ambi terlihat tidak semangat.
“Ambi, ayo kita mencari rumput.” Ajak sang Ayah.
“Aku tidak mau ayah. Aku mau disini saja.” Ambi ingin diam di kandangnya.
“Kenapa?” Tanya sang ibu.
“Aku tidak mau makan, ibu.” Jawab Ambi.
“Baiklah, mungkin kamu masih capek ya. Kita bawakan saja rumputnya kesini, Bu” usul sang ayah.
Ayah dan ibu Ambi pun segera mencari rumput segar. Setelah mereka selesai makan, mereka membawakan beberapa rumput untuk dimakan Ambi di kandang.
“Ini, nak, makanlah. Rumputnya enak sekali.” Sang ibu menyodorkan rumput segar kepada Ambi.
“Tidak, bu, aku tidak mau. Aku tidak mau makan.” Ambi menolak dan menutup wajahnya dengan telinganya yang lebar.
“Kenapa, Ambi?” Tanya sang ayah.
“Aku capek, yah, ingin tidur saja” jawab Ambi.
“Baiklah.” Kata sang ayah.
Malam pun tiba. Lalu mereka bertiga tidur berdekatan.
Hujan turun dengan lebat. Udara jadi semakin dingin. Ayah ibu memeluk Ambi.”Semoga kamu selalu sehat, nak” bisik sang ibu.
Semua kambing dilepaskan untuk mencari makan sendiri.
Tapi, Ambi terlihat tidak semangat.
“Ambi, ayo kita mencari rumput.” Ajak sang Ayah.
“Aku tidak mau ayah. Aku mau disini saja.” Ambi ingin diam di kandangnya.
“Kenapa?” Tanya sang ibu.
“Aku tidak mau makan, ibu.” Jawab Ambi.
“Baiklah, mungkin kamu masih capek ya. Kita bawakan saja rumputnya kesini, Bu” usul sang ayah.
Ayah dan ibu Ambi pun segera mencari rumput segar. Setelah mereka selesai makan, mereka membawakan beberapa rumput untuk dimakan Ambi di kandang.
“Ini, nak, makanlah. Rumputnya enak sekali.” Sang ibu menyodorkan rumput segar kepada Ambi.
“Tidak, bu, aku tidak mau. Aku tidak mau makan.” Ambi menolak dan menutup wajahnya dengan telinganya yang lebar.
“Kenapa, Ambi?” Tanya sang ayah.
“Aku capek, yah, ingin tidur saja” jawab Ambi.
“Baiklah.” Kata sang ayah.
Malam pun tiba. Lalu mereka bertiga tidur berdekatan.
Hujan turun dengan lebat. Udara jadi semakin dingin. Ayah ibu memeluk Ambi.”Semoga kamu selalu sehat, nak” bisik sang ibu.
Besoknya,
sinar matahari pagi menembus lubang di kandang Ambi.
Ambi membuka matanya. Tapi badannya masih malas untuk bangun.
“Priiiiiit! Priiit!” bunyi peluit Pak Tani menggerakan para kambing etawa itu ke rerumputan. Semuanya bersemangat. Tapi tidak dengan Ambi. Dia tidak mau keluar dari kandang. Dia tidak mau mencari rumput segar.
Ambi membuka matanya. Tapi badannya masih malas untuk bangun.
“Priiiiiit! Priiit!” bunyi peluit Pak Tani menggerakan para kambing etawa itu ke rerumputan. Semuanya bersemangat. Tapi tidak dengan Ambi. Dia tidak mau keluar dari kandang. Dia tidak mau mencari rumput segar.
“Ayo,
Ambi kita cari rumput segar!” ajak ayah.
“Tidak mau, ayah. Aku tidak mau makan” jawab Ambi.
“Kemarin sore kamu tidak makan, masa sekarang tidak makan lagi.” Sang ibu merasa cemas.
“Tidak, bu. Biarkan aku di kandang saja”
Lalu, ayah ibunya pun keluar kandang dan makan rumput segar seperti biasa.
Mereka juga membawa pulang beberapa rumput untuk dimakan Ambi, tapi Ambi menolaknya lagi.
Pak Tani datang dan membawa Ambi dan ibunya untuk diperah.
Pak Tani heran saat memerah ambing Ambi beberapa kali tapi tidak ada susu yang keluar.
“Loh, ada apa denganmu, Ambi? Kemarin susumu sangat banyak. Tapi sekarang hampir tidak ada susu yang keluar.” Kata Pak Tani.
“Badanmu juga tampak lemas. Apa kamu sakit?” Pak Tani memeriksa badan dan mulut Ambi dengan teliti. Tak ada yang salah. Pak Tani merasa khawatir.
“Aku akan memanggil dokter untukmu nanti. Sekarang lebih baik kamu istirahat saja di kandang, ya” Pak Tani menuntun Ambi kembali ke kandangnya.
“Tidak mau, ayah. Aku tidak mau makan” jawab Ambi.
“Kemarin sore kamu tidak makan, masa sekarang tidak makan lagi.” Sang ibu merasa cemas.
“Tidak, bu. Biarkan aku di kandang saja”
Lalu, ayah ibunya pun keluar kandang dan makan rumput segar seperti biasa.
Mereka juga membawa pulang beberapa rumput untuk dimakan Ambi, tapi Ambi menolaknya lagi.
Pak Tani datang dan membawa Ambi dan ibunya untuk diperah.
Pak Tani heran saat memerah ambing Ambi beberapa kali tapi tidak ada susu yang keluar.
“Loh, ada apa denganmu, Ambi? Kemarin susumu sangat banyak. Tapi sekarang hampir tidak ada susu yang keluar.” Kata Pak Tani.
“Badanmu juga tampak lemas. Apa kamu sakit?” Pak Tani memeriksa badan dan mulut Ambi dengan teliti. Tak ada yang salah. Pak Tani merasa khawatir.
“Aku akan memanggil dokter untukmu nanti. Sekarang lebih baik kamu istirahat saja di kandang, ya” Pak Tani menuntun Ambi kembali ke kandangnya.
“Hah,
dokter? Aku akan diperiksa dokter?” Ambi merasa takut. Dia mengingat terakhir
kali dokter datang menyuntikkan sesuatu
ke badannya.
“Ibu, aku tak mau disuntik lagi. Aku tidak sakit kok, Bu” kata Ambi.
“Tapi kamu sejak kemarin tidak makan makanya hari ini susumu tidak keluar. Mungkin kamu memang sakit, Nak” kata sang ibu.
“Tidak, bu. Aku hanya takut makan. Aku takut ada duri lagi di rumput yang aku makan. Rasanya sakit sekali.” Ambi mengaku.
“Oh, jadi itu alasannya kamu malas makan?” kata sang ayah.
“Coba kita kembali ke tempat kamu memakan rumput berduri itu.” Ajak Ayah
“Disini, yah, aku makan rumput itu disini.” Ambi menunjukkan rerumputan yang ada di bawah pohon mangga. “Ini rumput yang biasa kita makan kan? Rumput ini tak berduri.”
Lalu mereka memeriksa rumput yang ada disitu.
“Naaah, ini dia tanaman yang mungkin termakan olehmu. “ seru Ayah.
“Ini putri malu, biasa tumbuh dekat rumput yang kita makan. Batangnya berduri." kata Ayah.
"Ooh..ini ya tanaman putri malu. Dia punya bunga yang cantik ya." sahut Ambi.
"Iya, daunnya yang kecil-kecil itu akan menutup jika disentuh atau ditiup. Daunnya jadi terlihat layu. Saat dia menutup, batang berdurinya akan mudah terlihat. Kenapa kamu sampai bisa tertusuk duri itu? Selama ini tak ada yang pernah mengalaminya.” Kata Ayah.
“hemm.. mungkin karena aku makan terburu-buru dan selalu melihat sekeliling. Aku selalu tak sabar untuk mencoba semua rumput yang ada disini. Mataku kurang memperhatikan apa yang aku makan.” Ambi menyadari kesalahannya.
“Jadi, sekarang kamu mau makan?” Tanya ibu.
“Iya bu, aku mau makan lagi. Aku ingin memberi susu yang banyak kepada Pak Tani.” Seru Ambi bersemangat.
Dia
lalu melahap rumput dengan lahap dan pelan. “Ibu, aku tak mau disuntik lagi. Aku tidak sakit kok, Bu” kata Ambi.
“Tapi kamu sejak kemarin tidak makan makanya hari ini susumu tidak keluar. Mungkin kamu memang sakit, Nak” kata sang ibu.
“Tidak, bu. Aku hanya takut makan. Aku takut ada duri lagi di rumput yang aku makan. Rasanya sakit sekali.” Ambi mengaku.
“Oh, jadi itu alasannya kamu malas makan?” kata sang ayah.
“Coba kita kembali ke tempat kamu memakan rumput berduri itu.” Ajak Ayah
“Disini, yah, aku makan rumput itu disini.” Ambi menunjukkan rerumputan yang ada di bawah pohon mangga. “Ini rumput yang biasa kita makan kan? Rumput ini tak berduri.”
Lalu mereka memeriksa rumput yang ada disitu.
“Naaah, ini dia tanaman yang mungkin termakan olehmu. “ seru Ayah.
“Ini putri malu, biasa tumbuh dekat rumput yang kita makan. Batangnya berduri." kata Ayah.
"Ooh..ini ya tanaman putri malu. Dia punya bunga yang cantik ya." sahut Ambi.
"Iya, daunnya yang kecil-kecil itu akan menutup jika disentuh atau ditiup. Daunnya jadi terlihat layu. Saat dia menutup, batang berdurinya akan mudah terlihat. Kenapa kamu sampai bisa tertusuk duri itu? Selama ini tak ada yang pernah mengalaminya.” Kata Ayah.
“hemm.. mungkin karena aku makan terburu-buru dan selalu melihat sekeliling. Aku selalu tak sabar untuk mencoba semua rumput yang ada disini. Mataku kurang memperhatikan apa yang aku makan.” Ambi menyadari kesalahannya.
“Jadi, sekarang kamu mau makan?” Tanya ibu.
“Iya bu, aku mau makan lagi. Aku ingin memberi susu yang banyak kepada Pak Tani.” Seru Ambi bersemangat.
Dia makan sambil menikmati harumnya rumput yang segar itu.
“Semoga besok susuku banyak.” Ambi berharap dengan bahagia.
Minggu, 28 Oktober 2018
Ngaji Lagi..Ngaji Lagi..
"FITRIIIII!! NAIK!!
Aku dan teman-teman pun belingsatan naik dari kolam ikan itu saat mendengar teriakan Mamah di pinggir jalan yang tak jauh dari kolam tempat kami berenang tadi.
Dengan perasaan takut kuhampiri Mamah yang sudah bersiap ngomel. "Waktunya ngaji masih aja main! bla..bla..bla..."
Aku pun segera membersihkan diri, sholat dzuhur dan pergi ke madrasah untuk mengaji.
.......................................................................................................
Di lain kesempatan, terdengar pengumuman dari speaker pesantren dekat rumah.
"Yang belum datang Neng Pipit, Nyai Yuli,... Harap segera datang. Pengajian akan dimulai."
Terdengar namaku dipanggil (Neng Pipit), tapi aku berusaha menyembunyikan rasa malu.
"Aaah kali ini aja libur ngaji gak papa", pikirku sambil pura-pura tidur di kamar.
Tapi, "Teh, tuh dah dipanggil!", kata Mamah.
Aku pura-pura gak denger.
"Pak, tuh si teteh gak mau ngaji!"
Si Mamah emang kaya peramal hihi.. tahu banget kalo anaknya pura-pura, dan tahu banget anaknya akan bangkit jika Bapak sudah dipanggil. 😁
Maka, sang anak pun bangkit dan berangkat ngaji.
.......................................................................................................
"Mah, hujan", kataku meminta dispensasi mengaji magrib di rumah ustadz yang lokasinya hanya terpisah 4 rumah dari rumah kami.
"Ada payung" respon Mamah tanda menolak harapanku.
Akupun berangkat sambil manyun.
......................................................................................................
Ngaji siang di madrasah sepulang sekolah, ngaji sore di pesantren setelah sholat ashar, dan ngaji di rumah ustadz setelah maghrib. Jadwalku sewaktu kecil, usia SD, memang penuh sama ngaji, Liburnya hari Jum'at saja. Dan orang tuaku, Bapak dan Mamah sangat ketat soal urusan sholat dan ngaji. Kalau aku belum pulang, diuber-uber tuh, dicari sampe dapat, dan disuruh ngaji.
Bahkan di liburan panjang sekolah pun, agenda utama liburannya adalah mondok di pesantren selama 2 pekan. Pesantrennya berbeda setiap liburan.
Pernah suatu waktu, saat itu mau naik kelas 3 SD. Aku dan kakak sepupuku yang cowok dikirim ke pesantren di kecamatan tetangga. Dulu rasanya jauh banget karena belum ada angkot seperti sekarang. Setiap maghrib tiba, perasaanku sedih sekali, rasa ingin pulang selalu menggelayuti. Nangis aja bisanya, sambil meraung minta pulang. Tiba-tiba muncul ide untuk minta dianterin ojek. Aku maksa minta pulang sama bibi pengawas dan minta dianterin sama ojek aja. Nah, pulanglah aku dianter Mang Ojek.
Sesampainya di rumah, aku malah dimarahin Bapa. Dan besok paginya, aku dianterin lagi ke pesantren tak cuma diiringi Mamah dan Bapa, tapi juga Kakek, Nenek, dan Uwa. 😜
Alhasih, akupun berusaha bersabar untuk mengikuti program mondok sampe selesai.
......................................................................................
Meski seketat itu aturan Bapak dan Mamah soal mengaji, anehnya tak pernah membuatku trauma atau jadi bosan mengaji. Malah, kupikir, kebiasaan yang dulu dipaksakan itu menjadi darah daging dalam jiwaku, cieee...beneran loh! Sampai dewasa, rasanya ada yang hampa kalo belum punya jadwal mengaji (ta'lim). Semoga menjadi amal jariyah buat Mamah (almh) dan Bapak. 😊
Sumber Gambar:
https://dimaspramudia.web.id/makna-adab-bagi-anak-usia-dini/gambar-anak-mengaji-kartun/
Depok, 28 Oktober 2018
Fitri Purbasari
Aku dan teman-teman pun belingsatan naik dari kolam ikan itu saat mendengar teriakan Mamah di pinggir jalan yang tak jauh dari kolam tempat kami berenang tadi.
Dengan perasaan takut kuhampiri Mamah yang sudah bersiap ngomel. "Waktunya ngaji masih aja main! bla..bla..bla..."
Aku pun segera membersihkan diri, sholat dzuhur dan pergi ke madrasah untuk mengaji.
.......................................................................................................
Di lain kesempatan, terdengar pengumuman dari speaker pesantren dekat rumah.
"Yang belum datang Neng Pipit, Nyai Yuli,... Harap segera datang. Pengajian akan dimulai."
Terdengar namaku dipanggil (Neng Pipit), tapi aku berusaha menyembunyikan rasa malu.
"Aaah kali ini aja libur ngaji gak papa", pikirku sambil pura-pura tidur di kamar.
Tapi, "Teh, tuh dah dipanggil!", kata Mamah.
Aku pura-pura gak denger.
"Pak, tuh si teteh gak mau ngaji!"
Si Mamah emang kaya peramal hihi.. tahu banget kalo anaknya pura-pura, dan tahu banget anaknya akan bangkit jika Bapak sudah dipanggil. 😁
Maka, sang anak pun bangkit dan berangkat ngaji.
.......................................................................................................
"Mah, hujan", kataku meminta dispensasi mengaji magrib di rumah ustadz yang lokasinya hanya terpisah 4 rumah dari rumah kami.
"Ada payung" respon Mamah tanda menolak harapanku.
Akupun berangkat sambil manyun.
......................................................................................................
Ngaji siang di madrasah sepulang sekolah, ngaji sore di pesantren setelah sholat ashar, dan ngaji di rumah ustadz setelah maghrib. Jadwalku sewaktu kecil, usia SD, memang penuh sama ngaji, Liburnya hari Jum'at saja. Dan orang tuaku, Bapak dan Mamah sangat ketat soal urusan sholat dan ngaji. Kalau aku belum pulang, diuber-uber tuh, dicari sampe dapat, dan disuruh ngaji.
Bahkan di liburan panjang sekolah pun, agenda utama liburannya adalah mondok di pesantren selama 2 pekan. Pesantrennya berbeda setiap liburan.
Pernah suatu waktu, saat itu mau naik kelas 3 SD. Aku dan kakak sepupuku yang cowok dikirim ke pesantren di kecamatan tetangga. Dulu rasanya jauh banget karena belum ada angkot seperti sekarang. Setiap maghrib tiba, perasaanku sedih sekali, rasa ingin pulang selalu menggelayuti. Nangis aja bisanya, sambil meraung minta pulang. Tiba-tiba muncul ide untuk minta dianterin ojek. Aku maksa minta pulang sama bibi pengawas dan minta dianterin sama ojek aja. Nah, pulanglah aku dianter Mang Ojek.
Sesampainya di rumah, aku malah dimarahin Bapa. Dan besok paginya, aku dianterin lagi ke pesantren tak cuma diiringi Mamah dan Bapa, tapi juga Kakek, Nenek, dan Uwa. 😜
Alhasih, akupun berusaha bersabar untuk mengikuti program mondok sampe selesai.
......................................................................................
Meski seketat itu aturan Bapak dan Mamah soal mengaji, anehnya tak pernah membuatku trauma atau jadi bosan mengaji. Malah, kupikir, kebiasaan yang dulu dipaksakan itu menjadi darah daging dalam jiwaku, cieee...beneran loh! Sampai dewasa, rasanya ada yang hampa kalo belum punya jadwal mengaji (ta'lim). Semoga menjadi amal jariyah buat Mamah (almh) dan Bapak. 😊
Sumber Gambar:
https://dimaspramudia.web.id/makna-adab-bagi-anak-usia-dini/gambar-anak-mengaji-kartun/
Depok, 28 Oktober 2018
Fitri Purbasari
Minggu, 21 Oktober 2018
Then, I Love Storytelling
It was almost 11 years ago. Saat itu kira-kira masa kuliah tingkat 3. Saya dapat mata kuliah English For Young Learners yang disajikan oleh dosen enerjik yang baru pulang dari kuliah di luar negeri. Masih sangat segar ilmunya, karena beliau khusus kuliah tentang itu disana.
Oia, saya dulu kuliah jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan bercita-cita ingin jadi guru di SMP, SMA, dan sederajat, dan jadi dosen. Pokoknya tidak mau ngajar di level SD apalagi TK. Kupikir berurusan dengan anak kecil pasti akan menguras energi. Gak mau ribet, gitu mindsetku waktu itu.
Tapi ternyata takdir berkata lain, cieeee.. hihihi.
Ibu dosenku yang satu itu suangat awesome, powerful, and inspiring!
Setiap kali ngajar, beliau selalu mampu membuat suasana ruang kelas mahasiswa seantusias anak TK. Beliau kerap kali membawa buku-buku cerita amazing, keren, unik, meski kontennya sederhana,
Beliau pun membawakan cerita di buku-buku itu dengan sangat mengagumkan.
Saya terpesona sekaliiiiii!!
Berikut salah dua buku yang membuat saya terpana.
Buku The Very Hungry Caterpillar karya Eric Carle ini bercerita tentang seekor ulat kecil yang kelaparan. lalu dia makan setiap hari. Nah disini kita bisa mengajak anak belajar tentang hari dan jenis makanan. Bukunya seru dan colorful, di setiap makanan ada lubang untuk si ulat masuk, dan kita bisa menggunakan jari kita sebagai si ulat. Language focusnya ada, kata yang sama diulang berkali-kali. Lalu setelah seminggu, si ulat kecil sudah berubah menjadi si ulat besar yang gendut. Disini anak-anak belajar kata sifat. Kalimat-kalimatnya simple namun penuh pelajaran. Mantap!
Yang selanjutnya adalah buku ini.
Where's Spot by Eric Hill membuatku tring tring ting pula. It's a lift the flap book. Seekor mama anjing mencari anaknya yang bernama Spot. Dia mencari ke seluruh penjuru rumah. Di setiap sudut yang dicari, dia malah menemukan teman-teman binatangnya. Anak-anak bisa belajar things in the house, animals, and preposition of place. Keseruannya ditambah dengan jenis buku buka tutup gambarnya. Jadi anak bisa merasa terlibat dalam pencarian Spot.
Tanpa disadari, energi beliau menyeretku untuk mengakui bahwa "Mengajar young learners alias anak kecil itu menyenangkan" dan saya merasa saya bisa membuat buku-buku cerita seperti itu.
Saya harus mengambil ladang kebaikan yang besar dengan mengajarkan bahasa Inggris yang benar pada anak-anak kecil dengan cara yang menyenangkan. Semoga kelak anak didikku akan mencintai bahasa Inggris. Dan itu modal yang besar bagi mereka untuk mempelajari matpel yang satu ini di tingkat pendidikan selanjutnya.
WOW saya berubah!!
Dalam mata kuliah itu, kami diberi tugas untuk membuat modul belajar EYL dari level TK hingga SD kelas 3. Dan saya kebagian dalam grup yang membuat modul untuk TK B. Berbinar!
Hingga saat mini penelitian sampai skripsi, saya mantap ambil judul tentang metode Storytelling dan pengaruhnya untuk penguasaan kosakata Bahasa Inggris pada anak SD.
Minat itu berlanjut hingga sekarang menjadi ibu.
Membacakan buku cerita pada anak sejak dalam kandungan telah saya rasakan sangat berdampak besar. Tentu yang diutamakan adalah buku tentang Allah, keteladanan Rasulullah dan para nabi.
Selain itu, alhamdulillah saya pun bisa membuat cerita dadakan sesuai dengan nilai yang dibutuhkan anak saat itu, hehehe. Sayangnya, saya jarang segera menuliskannya.
Meski belum menelurkan karya berupa buku, saya terus berusaha menularkan manfaat storytelling dan mengkampanyekan buku cerita yang sarat makna. Pokok'e Storytelling is Amazing! 😊
Gambar diambil dari:
https://whattheredheadsaid.com/redhead-roundup-books-august-2016/
https://babydivine.co.nz/products/the-very-hungry-caterpillar-big-broad-book
Depok, 21 Oktober 2018
Oia, saya dulu kuliah jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan bercita-cita ingin jadi guru di SMP, SMA, dan sederajat, dan jadi dosen. Pokoknya tidak mau ngajar di level SD apalagi TK. Kupikir berurusan dengan anak kecil pasti akan menguras energi. Gak mau ribet, gitu mindsetku waktu itu.
Tapi ternyata takdir berkata lain, cieeee.. hihihi.
Ibu dosenku yang satu itu suangat awesome, powerful, and inspiring!
Setiap kali ngajar, beliau selalu mampu membuat suasana ruang kelas mahasiswa seantusias anak TK. Beliau kerap kali membawa buku-buku cerita amazing, keren, unik, meski kontennya sederhana,
Beliau pun membawakan cerita di buku-buku itu dengan sangat mengagumkan.
Saya terpesona sekaliiiiii!!
Berikut salah dua buku yang membuat saya terpana.
Buku The Very Hungry Caterpillar karya Eric Carle ini bercerita tentang seekor ulat kecil yang kelaparan. lalu dia makan setiap hari. Nah disini kita bisa mengajak anak belajar tentang hari dan jenis makanan. Bukunya seru dan colorful, di setiap makanan ada lubang untuk si ulat masuk, dan kita bisa menggunakan jari kita sebagai si ulat. Language focusnya ada, kata yang sama diulang berkali-kali. Lalu setelah seminggu, si ulat kecil sudah berubah menjadi si ulat besar yang gendut. Disini anak-anak belajar kata sifat. Kalimat-kalimatnya simple namun penuh pelajaran. Mantap!
Yang selanjutnya adalah buku ini.
Where's Spot by Eric Hill membuatku tring tring ting pula. It's a lift the flap book. Seekor mama anjing mencari anaknya yang bernama Spot. Dia mencari ke seluruh penjuru rumah. Di setiap sudut yang dicari, dia malah menemukan teman-teman binatangnya. Anak-anak bisa belajar things in the house, animals, and preposition of place. Keseruannya ditambah dengan jenis buku buka tutup gambarnya. Jadi anak bisa merasa terlibat dalam pencarian Spot.
Tanpa disadari, energi beliau menyeretku untuk mengakui bahwa "Mengajar young learners alias anak kecil itu menyenangkan" dan saya merasa saya bisa membuat buku-buku cerita seperti itu.
Saya harus mengambil ladang kebaikan yang besar dengan mengajarkan bahasa Inggris yang benar pada anak-anak kecil dengan cara yang menyenangkan. Semoga kelak anak didikku akan mencintai bahasa Inggris. Dan itu modal yang besar bagi mereka untuk mempelajari matpel yang satu ini di tingkat pendidikan selanjutnya.
WOW saya berubah!!
Dalam mata kuliah itu, kami diberi tugas untuk membuat modul belajar EYL dari level TK hingga SD kelas 3. Dan saya kebagian dalam grup yang membuat modul untuk TK B. Berbinar!
Hingga saat mini penelitian sampai skripsi, saya mantap ambil judul tentang metode Storytelling dan pengaruhnya untuk penguasaan kosakata Bahasa Inggris pada anak SD.
Minat itu berlanjut hingga sekarang menjadi ibu.
Membacakan buku cerita pada anak sejak dalam kandungan telah saya rasakan sangat berdampak besar. Tentu yang diutamakan adalah buku tentang Allah, keteladanan Rasulullah dan para nabi.
Selain itu, alhamdulillah saya pun bisa membuat cerita dadakan sesuai dengan nilai yang dibutuhkan anak saat itu, hehehe. Sayangnya, saya jarang segera menuliskannya.
Meski belum menelurkan karya berupa buku, saya terus berusaha menularkan manfaat storytelling dan mengkampanyekan buku cerita yang sarat makna. Pokok'e Storytelling is Amazing! 😊
Gambar diambil dari:
https://whattheredheadsaid.com/redhead-roundup-books-august-2016/
https://babydivine.co.nz/products/the-very-hungry-caterpillar-big-broad-book
Depok, 21 Oktober 2018
Langganan:
Postingan (Atom)
Tambah Teman WA
Menambah teman menambah rezeki.. Bismillah. Jalin silaturahim, tak pernah rugi. Insyaallah.
-
Masyaallah makin takjub dengan fasilitas belajar yang disuguhkan di Bunda Cekatan ini. Dan sungguh para ibu profesional yang berbagi potl...
-
Melatih Kecerdasan, itu tema game di level ketiga kuliah Bunda Sayang kali ini. Game yang dilakukan berkaitan dengan family project yan...
-
Gambar diatas merupakan aliran rasa ter-Kece di level 2 perkuliahan Bunda Sayang ini. Isinya sungguh jujur ya. hehe.. menunjukkan segal...









